Tampilkan postingan dengan label AlQur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AlQur'an. Tampilkan semua postingan

Minggu, April 05, 2009

Hebatnya Kalam Ilahi

Pada suatu hari,seorang lelaki mendatangi seorang sahabat yg bernama Abdullah ibnu Masu’d.Lelaki itu berkata kpd Abdullah ibnu Masu’d:”Wahai ibnu Masu’d,nasihatilah aku dgn sesuatu yg dpt meredakan kegelisahanku.Buat masa ini, jiwaku tidak tenteram, fikiranku kusut,tidurku tidak nyenyak dan seleraku hilang.”
Lalu Abdullah ibnu Masu’d menjawab: “Bawalah hatimu mengunjungi tiga tempat.Pertama, Ke tempat org membaca al-Quran tidak kira sama ada kamu ikut membacanya ataupun kamu sekadar mendengar pembacaan org lain.Kedua, Menghadiri majlis pengajian yg mengingatkan kamu kpd Allah.Ketiga, Mencari satu waktu yg sunyi,contohnya di waktu mlm dan ketika itu kamu bangun melaksanakan ibadat kpd Allah serta memohon kpdNya agar diberikan ketenangan dan kedamaian hati kpdmu.Jika selepas melakukan kesemua itu jiwamu masih tidak tenteram,mintalah kpd Allah agar digantikan hatimu dgn hati yg lain krn hati yg kamu miliki skrg ini bukan hatimu.”Setelah mendengar nasihat Abdullah ibnu Masu’d,lelaki itu pun kembali ke rumahnya.Beliau terus berwudu dan membaca al-Quran dgn penuh khusyuk.Selesai membaca al-Quran,dia mendapati jiwanya berubah menjadi tenang,fikirannya menjadi jernih dan kegelisahannya hilang sama sekali.
Sumber: www.matasalman.wordpress.com

Pendapat Ilmuwan Barat Seputar Al Qur'an

Inilah pendapat beberapa ilmuwan non muslim mengenai Alqur’an:
1. Napoleon Bonaparte :
a. Selama berabad-abad pertengahan, sejarah Islam peradaban sepenuhnya. Berkat keuletan kaum Musliminlah maka ilmu pengetahun dan falsafah Yunani tertolong dari kebinasaan, dan kemudian datang membangunkan dunia Barat serta membangkitkan gerakan intelektual sampai pada pembaruan Bacon. Dalam abad ke-t dunia lama itu sedang dalam sakaratul maut. Muhammad memberi kepada mereka sebuah Qur’an yang merupakan titik tolak ke arah dunia baru. (dari buku Stanislas Cuyard-Ency des Sciences Religioses, Paris, 1880, jilid IX)
b. Saya meramalkan bahwa tidak lama lagi akan dapat dipersatukan semua manusia yang berakal dan berpendidikan tinggi untuk memajukan satu kesatuan kekuasaan yang berdasarkan prinsip-prinsip Islam, karena hanyalah Qur’an itu satu-satunya kebenaran yang mampu memimpin manusia kepada kebahagiaan. (dari buku Bonaparte et l’Islam oleh Cherlifs, Paris)
2. W.E Hocking dalam Spirit of World Politics-New York’32 berkata:
..Saya merasa benar dalam penegasan saya, bahwa QUr’an berisi amat banyak prinsip-prinsip yang diperlukan untuk pertumbuhannya sendiri. Sesungguhnya dapat dikatakan bahwa hingga pertengahan abad ke-13, Islamlah pembawa segala apa yang tumbuh yang dapat dibanggakan oleh Dunia Barat.3. E. Denisen Ross dari Introduction to the Koran-George Sale berkata:
Qur’an memegang peranan yang lebih besar terhadap Kaum Muslimin daripada peranan Bible dalam agama Kristen. Ia bukan saja merupakan sebuah kitab suci dari kepercayaan mereka, tetap juga merupakan textbook dari upacara agamanya dan prinsip-prinsip hukum kemasyarakatan….Sungguh sebuah kitab seperti ini patut dibaca secara meluas di Barat, terutama di masa-masa ini, dimana ruang dan waktu hampir telah dipunahkan oleh penemuan-penemuan modern.
4. DR. J. Shiddly dalam buku The Lord Jesus in the Qur’an berkata:
Qur’an adalah Bible kaum muslimin dan lebih dimuliakan dari kitab suci yang manapun, lebih dari kitab Perjanjian Lama dan Kitab Perjanjian Baru.
5. Prof. A.J. Amberry, dalam buku De Kracht van den Islam berkata:
Qur’an ditulis dengan gaya tak menentu dan tidak teratur, yang menunjukkan bahwa penulisnya di atas segala hukum-hukum pengarang manusia.
[dikutip dari Serial Kristologi Islami : Pendapat Ilmuwan Non Muslim tentang Bibel dan Alqur'an karya Drs. H. Wakhid Rosyid (Willibrordus Romanus) Lasiman]
Jadi malu, mereka yang ilmuwan non muslim saja bisa berkata seperti itu terhadap Alqur’an berarti mereka telah mempelajari meneliti dengan seksama isi dari AlQur’an sampai kepada kesimpulan seperti yang mereka kemukakan. Mereka saja sampai mempelajari seperti itu sedangkan kita (saya)? Kebanyakan dari kita malah asik membaca buku, majalah, koran dan sering melupakan buku teragung kita.
Tidak ada salahnya juga membaca buku-buku bahkan menurut Pak Ary Ginanjar Agustian dalam bukunya ESQ, kita malah sangat dianjurkan untuk membaca berbagai buku, namun disarankan kita untuk tetap membaca Alqur’an, sebagai penyeimbang, agar kita tetap memiliki pegangan yang kuat, dan tidak terjerumus pada pemikiran yang keliru. Karena pengaruh bacaan itu sangat kuat. Masih menurut Ary Ginanjar, Setiap bacaan, kejadian, perkataan, perbuatan orang lain, dan sikap orang lain akan membekas pada diri kita, baik itu secara tidak disengaja atau memang disengaja.
Begitu banyak paham-paham yang diajarkan orang lain yang telah mempengaruhi pemikiran jutaan orang seperti di RUsia dengan ajaran komunisnya, Pemikiran Mao Tse Tsung yang telah mengubah wajah satu milyar orang Cina dengan ajaran Komunis dan sosialisnya. Peter Drucker yang terkenal dengan pemikiran “Management by objective” yang banyak membuat orang begitu mendewakan sebuah keberhasilan ekonomi, tetapi begitu mengabaikan keseimbangan nurani.
Begitu pula dengan pemikiran Dale Carnagie, Stephen COvey, Robert T Kiyosaki yang juga banyak dianut oleh begitu banyak orang islam namun banyak yang tidak menyadari bahwa seharusnya setelah baca buku itu mereka kembali lagi kepada Allah Swt sebagai pemilik kebenaran.
Kok kita malah lebih banyak membaca literatur barat ya padahal ilmuwan barat banyak yang membaca literatur Islam?…..

Pengaruh AlQur'an Terhadap Fungsi Organ

Ada menyeruak perhatian yang begitu besar terhadap kekuatan membaca Al-Qur’an, dan yang terlansir di dalam Al-Qur’an, dan pengajaran Rasulullah. Dan sampai beberapa waktu yang belum lama ini, belum diketahui bagaimana mengetahui dampak Al-Qur’an tersebut kepada manusia. Dan apakah dampak ini berupa dampak biologis ataukah dampak kejiwaan, atakah malah keduanya, biologis dan kejiwaan.
Maka, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kami memulai sebuah penelitian tentang Al-Qur’an dalam pengulangan-pengulangan “Akbar” di kota Panama wilayah Florida. Dan tujuan pertama penelitian ini adalah menemukan dampak yang terjadi pada organ tubuh manusia dan melakukan pengukuran jika memungkinkan. Penelitian ini menggunakan seperangkat peralatan elektronik dengan ditambah komputer untuk mengukur gejala-gejala perubahan fisiologis pada responden selama mereka mendengarkan bacaan Al-Qur’an.
Penelitian dan pengukuran ini dilakukan terhadap sejumlah kelompok manusia:
• Muslimin yang bisa berbahasa Arab.• Muslimin yang tidak bisa berbahasa Arab• Non-Islam yang tidak bisa berbahasa Arab.
Pada semua kelompok responden tersebut dibacakan sepotong ayat Al-Qur’an dalam bahasa Arab dan kemudian dibacakan terjemahnya dalam bahasa Inggris.Dan pada setiap kelompok ini diperoleh data adanya dampak yang bisa ditunjukkan tentang Al-Qur’an, yaitu 97% percobaan berhasil menemukan perubahan dampak tersebut. Dan dampak ini terlihat pada perubahan fisiologis yang ditunjukkan oleh menurunnya kadar tekanan pada syaraf secara sprontanitas. Dan penjelasan hasil penelitian ini aku presentasikan pada sebuah muktamar tahunan ke-17 di Univ. Kedokteran Islam di Amerika bagian utara yang diadakan di kota Sant Louis Wilayah Mizore, Agustus 1984.
Dan benar-benar terlihat pada penelitian permulaan bahwa dampak Al-Qur’an yang kentara pada penurunan tekanan syaraf mungkin bisa dikorelasikan kepada para pekerja: Pekerja pertama adalah suara beberapa ayat Al-Qur’an dalam Bahasa Arab. Hal ini bila pendengarnya adalah orang yang bisa memahami Bahasa Arab atau tidak memahaminya, dan juga kepada siapapun (random). Adapun pekerja kedua adalah makna sepenggal Ayat Al-Qur’an yang sudah dibacakan sebelumnya, sampai walaupun penggalan singkat makna ayat tersebut tanpa sebelumnya mendengarkan bacaan Al-Qur’an dalam Bahasa Arabnya.
Adapun Tahapan kedua adalah penelitian kami pada pengulangan kata “Akbar” untuk membandingkan apakah terdapat dampak Al-Qur’an terhadap perubahan-perubahan fisiologis akibat bacaan Al-Qur’an, dan bukan karena hal-hal lain selain Al-Qur’an semisal suara atau lirik bacaan Al-Qur’an atau karena pengetahun responden bahwasannya yang diperdengarkan kepadanya adalah bagian dari kitab suci atau pun yang lainnya.
Dan tujuan penelitian komparasional ini adalah untuk membuktikan asumsi yang menyatakan bahwa “Kata-kata dalam Al-Qur’an itu sendiri memiliki pengaruh fisiologis hanya bila didengar oleh orang yang memahami Al-Qur’an . Dan penelitian ini semakin menambah jelas dan rincinya hasil penelitian tersebut.
Peralatan
Peralatan yang digunakan adalah perangkat studi dan evaluasi terhadap tekanan syaraf yang ditambah dengan komputer jenis Medax 2002 (Medical Data Exuizin) yang ditemukan dan dikembangkan oleh Pusat Studi Kesehatan Univ. Boston dan Perusahaan Dafikon di Boston. Perangkat ini mengevaluasi respon-respon perbuatan yang menunjukkan adanya ketegangan melalui salah satu dari dua hal:
(i) Perubahan gerak nafas secara langsung melalui komputer, dan
(ii) Pengawasan melalui alat evaluasi perubahan-perubahan fisiologis pada tubuh. Perangkat ini sangat lengkap dan menambah semakin menguatkan hasil validitas hasil evaluasi.
Subsekuen:
• Program komputer yang mengandung pengaturan pernafasan dan monitoring perubahan fisiologis dan printer.
• Komputer Apple 2, yaitu dengan dua floppy disk, layar monitor dan printer.
• Perangkat monitoring elektronik yang terdiri atas 4 chanel:
2 canel untuk mengevaluasi elektrisitas listrik dalam otot yang diterjemahkan ke dalam respon-respon gerak syaraf otot;
satu chanel untuk memonitor arus balik listrik yang ke kulit; dan
satu chanel untuk memonitor besarnya peredaran darah dalam kulit dan banyaknya detak jantung dan suhu badan.
Berdasarkan elektrisitas listrik dalam otot-otot, maka ia semakin bertambah yang menyebabkan bertambahnya cengkeraman otot. Dan untuk memonitor perubahan-perubahan ini menggunakan kabel listrik yang dipasang di salah satu ujung jari tangan.
Adapun monitoring volume darah yang mengalir pada kulit sekaligus memonitor suhu badan, maka hal itu ditunjukkan dengan melebar atau mengecilnya pori-pori kulit. Untuk hal ini, menggunakan kabel listrik yang menyambung di sekitar salah satu jari tangan. Dan tanda perubahan-perubahan volume darah yang mengalir pada kulit terlihat jelas pada layar monitoryang menunjukkan adanya penambahan cepat pada jantung. Dan bersamaan dengan pertambahan ketegangan, pori-pori mengecil, maka mengecil pulalah darah yag mengalir pada kulit, dan suhu badan, dan detak jantung.
Metode dan Keadaan yang digunakan:
Percobaan dilakukan selama 210 kali kepada 5 responden: 3 laki-laki dan 2 perempuan yang berusia antara 40 tahun dan 17 tahun, dan usia pertengahan 22 tahun.
Dan setiap responden tersebut adalah non-muslim dan tidak memahami bahasa Arab. Dan percobaan ini sudah dilakukan selama 42 kesempatan, dimana setiap kesempatannya selama 5 kali, sehingga jumlah keseluruhannya 210 percobaan. Dan dibacakan kepada responden kalimat Al-Qur’an dalam bahasa Arab selama 85 kali, dan 85 kali juga berupa kalimat berbahasa Arab bukan Al-Qur’an. Dan sungguh adanya kejutan/shock pada bacaan-bacaan ini: Bacaan berbahasa Arab (bukan Al-Qur’an) disejajarkan dengan bacaan Al-Qur’an dalam lirik membacanya, melafadzkannya di depan telingga, dan responden tidak mendengar satu ayat Al-Qur’an selama 40 uji-coba. Dan selama diam tersebut, responden ditempatkan dengan posisi duduk santai dan terpejam. Dan posisi seperti ini pulalah yang diterapkan terhadap 170 uji-coba bacaan berbahasa Arab bukan Al-Qur’an.
Dan ujicoba menggunakan bacaan berbahasa Arab bukan Al-Qur’an seperti obat yang tidak manjur dalam bentuk mirip seperti Al-Qur’an, padahal mereka tidak bisa membedakan mana yang bacaan Al-Qur’an dan mana yang bacaan berbahasa Arab bukan Al-Qur’an. Dan tujuannya adalah utuk mengetahui apakah bacaan Al-Qur’an bisa berdampak fisiologis kepada orang yang tidak bisa memahami maknanya. Apabila dampak ini ada (terlihat), maka berarti benar terbukti dan dampak tidak ada pada bacaan berbahasa Arab yang dibaca murottal (seperti bacaan Imam Shalat) pada telinga responden.
Adapun percobaan yang belum diperdengarkan satu ayat Al-Qur’an kepada responden, maka tujuannya adalah untuk mengetahui dampak fisiologis sebagai akibat dari letak/posisi tubuh yang rileks (dengan duduk santai dan mata terpejam).
Dan sungguh telah kelihatan dengan sangat jelas sejak percobaan pertama bahwasannya posisi duduk dan diam serta tidak mendegarkan satu ayat pun, maka ia tidak mengalami perubahan ketegangan apapun. Oleh karena itu, percobaan diringkas pada tahapan terakhir pada penelitian perbandingan terhadap pengaruh bacaan Al-Qur’an dan bacaan bahasa Arab yang dibaca murottal seperti Al-Qur’an terhadap tubuh.
Dan metode pengujiannya adalah dengan melakukan selang-seling bacaan: dibacakan satu bacaan Al-Qur’an, kemudian bacaan vahasa Arab, kemudian Al-Qur’an dan seterusnya atau sebaliknya secara terus menerus.
Dan para responden tahu bahwa bacaan yang didengarnya adalah dua macam: Al-Qur’an dan bukan Al-Qur’an, akan tetapi mereka tidak mampu membedakan antara keduanya, mana yang Al-Qur’an dan mana yang bukan.
Adapun metode monitoring pada setiap percobaan penelitian ini, maka hanya mencukupkan dengan satu chanel yaitu chanel monitoring elektrisitas listrik pada otot-otot, yaitu dengan perangkat Midax sebagaimana kami sebutkan di atas. Alat ini membantu menyampaikan listrik yang ada di dahi.
Dan petunjuk yang sudah dimonitor dan di catat selama percobaan ini mengadung energi listrik skala pertengahan pada otot dibandingkan dengan kadar fluktuasi listrik pada waktu selama percobaan. Dan sepanjang otot untuk mengetahui dan membandingkan persentase energi listrik pada akhir setiap percobaan jika dibandingkan keadaan pada awal percobaan. Dan semua monitoring sudah dideteksi dan dicatat di dalam komputer.
Dan sebab kami mengutamakan metode ini untuk memonitor adalah karena perangkat ini bisa meng-output angka-angka secara rinci yang cocok untuk studi banding, evaluasi dan akuntabel..
Pada satu ayat percobaan, dan satu kelompok percobaan perbandingan lainnya mengandung makna adanya hasil yang positif untuk satu jenis cara yang paling kecil sampai sekecil-kecilnya energi listrik bagi otot. Sebab hal ini merupakan indikator bagusnya kadar fluktuasi ketegangan syaraf, dibandingkan dengan berbagai jenis cara yang digunakan responden tersebut ketika duduk.
Hasil Penelitian
Ada hasil positif 65% percobaan bacaan Al-Qur’an. Dan hal ini menunjukkan bahwa energi listrik yang ada pada otot lebih banyak turun pada percobaan ini. Hal ini ditunjukkan dengan dampak ketegangan syaraf yang terbaca pada monitor, dimana ada dampak hanya 33 % pada responden yang diberi bacaan selain Al-Qur’an.
Pada sejumlah responden, mungkin akan terjadi hasil yang terulang sama, seperti hasil pengujian terhadap mendengar bacaan Al-Qur’an. Oleh karena itu, dilakukan ujicoba dengan diacak dalam memperdengarkannya (antara Al-Qur’an dan bacaan Arab) sehingga diperoleh data atau kesimpulan yang valid.
Pembahasan Hasil Penelitian dan Kesimpulan
Sungguh sudah terlihat jelas hasil-hasil awal penelitian tentang dampak Al-Qur’an pada penelitian terdahulu bahwasanya Al-Qur`an memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap syaraf. dan mungkin bisa dicatat pengaruh ini sebagai satu hal yang terpisah, sebagaimana pengaruh inipun terlihat pada perubahan energi listrik pada otot-otot pada organ tubuh. dan perubah-perubahan yang terjadi pada kulit karena energi listrik, dan perubahan pada peredaran darah, perubahan detak jantung, voleme darah yang mengalir pada kulit, dan suhu badan.
Dan semua perubahan ini menunjukan bahwasanya ada perubahan pada organ-organ syaraf otak secara langsung dan sekaligus mempengaruhi organ tubuh lainnya. Jadi, ditemukan sejumlah kemungkinan yang tak berujung ( tidak diketahui sebab dan musababnya) terhadap perubahan fisiologis yang mungkin disebabkan oleh bacaan Al-Qur`an yang didengarkannya.
Oleh karena itu sudah diketahui oleh umum bahwasanya ketegangan-ketegangan saraf akan berpengaruh kepada dis-fungsi organ tubuh yang dimungkinkan terjadi karena produksi zat kortisol atau zat lainnya ketika merespon gerakan antara saraf otak dan otot. Oleh karena itu pada keadaan ini pengaruh Al-Qur`an terhadap ketegangan saraf akan menyebabkan seluruh badannya akan segar kembali, dimana dengan bagusnya stamina tubuh ini akan menghalau berbagai penyakit atau mengobatinya. Dan hal ini sesuai dengan keadaan penyakit tumor otak atau kanker otak.
Juga, hasil uji coba penelitian ini menunjukan bahwa kalimat-kalimat Al-Qur`an itu sendiri memeliki pengaruh fisiologis terhadap ketegangan organ tubuh secara langsung, apalagi apabila disertai dengan mengetahui maknanya.Dan perlu untuk disebutkan disini bahwasanya hasil-hasil penelitian yang disebutkan diatas adalah masih terbatas dan dengan responden yang juga terbatas.
[Dievalusi dengan menggunakan perangkat elektronik] Dr. Ahmad Al-Qadhiy (United States of America) alsofwah.hatibening.com
Menjadi seorang penghafal quran adalah impian setiap muslim. Namun hal ini masih dianggap sebagai impian yang mungkin sulit untuk dicapai, Benarkah? Pada dasarnya menghafal al-quran itu gampang-gampang susah. Tergantung pada kesiapan manusianya itu sendiri untuk dapat menhafal dan menjaga hafalan yang telah dimilikinya, bukan perkara yang mudah memang.
Setelah sebelumnya dibahas mengenai keutamaan membaca Al-quran, adab-adab membaca Al-quran, kali ini kita akan membahas mengenai Syarat-syarat mengahafal Al-quran, diantaranya :
Persiapan Pribadi
Ini adalah syarat terpenting untuk dapat menjadi pengahfal quran yang baik. Persiapan pribadi yang harus dibutuhkan adalah niat yang ikhlas, keinginan, persepsi yang lurus, serta tidak adanya paksaan dari pihak lain. Sebab hal-hal tersebut yang kemudian akan mendukung motivasi calon penghafal quran untuk dapat menanggulangi setiap kendala yang dihadapi.
Bacaan Al-quran yang baik dan benar
Memiliki kemampuan membaca quran yang baik dan benar adalah salah satu yang diutamakan untuk menjadi calon penghafal quran. Suatu bacaan dikatakan benar, jika telah menerapkan ilmu tajwid. Dan dianggap baik jika bacaan tersebut rata dan diutamakan berirama. Disamping bacaan yang baik dan benar, dianjurkan pula dapat membaca dengan lancer. Dengan demikian , Insya Allah akan menghasilkan hafalan yang baik dan benar pula
Mendapat izin dari orangtua,wali dan suami bagi wanita yang telah menikah
Izin dari orang-orang yang ada dilingkungan calon penghafal quran juga sangat dibutuhkan, karena hal ini dapat mendukung dalam keberhasilan sang penghafal Al-quran. Dengan
Memiliki sifat mahmudah (terpuji)
Yaitu melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangNya, termasuk berbagai sifat madzmumah (tercela)
“Sesungguhnya Al-Quran itu adalah ayat –ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang dzalim”
QS. Al-ankabut :49
Syekh Al-Wagi’ (Guru Imam Syafe’i)
“Ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidak akan dihidayahkan kepada orang yang ahli maksiat”
Kontinuitas dalam menghafal (istiqomah)
Menghafal quran harus istiqomah, memiliki kedisiplinan baik dalam hal waktu, tempat maupun materi yang akan dihafalkan. Sang penghafal sebaiknya memiliki cara tersendiri untuk dapat mengusir kebosanan selama proses menghafal dan dalam proses pengulangan, kapan pun dan dimana pun.
Memiliki waktu khusus untuk menghafal al-quran sangatlah dianjurkan. Baik untuk menghafal materi baru maupun untuk mengulang (mura’jaah takrir) yang waktu tersebut tidak dapat diganggu dengan aktivitas lain.
Sanggup memelihara hafalan
Alquran itu pada dasarnya sangat mudah untuk dihafal, namun mudah pula untuk hilang karena lupa dan tanpa ada pemeliharaan. Oleh karena itu sang penghafal quran harus memeliki cara untuk memeliharanya.
Memiliki mushaf sendiri
Didalam proses menghafal quran sebaiknya sang penghafal memiliki mushaf quran sendiri dan tidak diganti-ganti mulai awal menghafal sampai khatam. Agar apabila ada kesalahan dalam menghafal, atau ada kesamaan ayat dapat digarisbawahi sebagai tanda. Hal ini sering kali dianggap remeh, padahal memiliki peranan yang sangat penting.
Al-quran yang seringkali digunakan untuk menghafal adalah al-quran Bahriyah atau sering disebut al-quran sudut. Yakni Al-quran yang memiliki cir-ciri khas tersendiri. Adapun cirri tersebut diantarnya: awal halaman pasti awal ayat, dan akhir halaman pasti akhir ayat. Setiap juz terdiri dari 20 halaman dan setiap halaman terdiri dari 15 baris. Al-quran tersebut biasanya diterbitkan di Negara-negara timur tengah. Al-quran semacam ini sangat diperlukan dalam rangka proses menghafal. Karena yang biasanya sering terjadi adalah sang penghafal mengingat-ingat letak dan posisi ayat yang dihafalkan.
Sumber: www.matasalman.wordpress.com

Metode2 Menghafal AlQur'an

Metode2 Menghafal AlQur'an
Dalam mengahafalkan quran sangat dibutuhkan metode-metode untuk dapat menunjang dan memudahkan sang penghafal. Ada beberapa metode yang sebagian para penghafal lakukan antara lain:1. Metode Pengulangan Penuh
Siapkan materi yang akan dihafal baik itu 1 halaman, ½ Halaman, ⅓ Halaman atau seterusnya
Materi hafalan dibaca secara berulang-ulang sampai lancer dan jelas. Hal tersebut dilakukan dengan cara melihat / membaca mushaf sebanyak + 40 kali
Materi tersebut diulang kembali dengan sesekali melihat mushaf dan sesekali tidak. Hal itu dilakukan berulang-ulang hingga hafal dengan sendirinya
Setelah hafal, lakukan pengulangan kembali tanpa melihat mushaf sama sekali
2. Metode Tulisan
Siapkan materi yang akan dihafal baik itu 1 halaman, ½ Halaman, ⅓ Halaman atau seterusnya
Materi hafalan tersebut ditulis pada buku atau pada lembat kertas
Materi hafalan tersebut dibacakan di depan guru/ pembimbing hingga dinyatakan benar dan lancar
Hafalkan materi tersebut , ayat per ayat secara berulang-ulang hingga hafal dan lancar
Metode semacam ini biasanya dilakukan oleh para penghafal Al-quran yang ada di Timur Tengah
3. Metode dengan bimbingan Guru
Siapkan materi yang akan dihafal baik itu 1 halaman, ½ Halaman, ⅓ Halaman atau seterusnya
Materi hafalan tersebut dibacakan oleh guru dan ditirukan oleh murid (calon penghafal) secara berulang-ulang
Materi dihafalkan dari ayat per ayat hingga hafal
Metode semacam ini biasa digunakan oleh para tuna netra
4. Metode Paham Makna
Siapkan materi yang akan dihafal baik itu 1 halaman, ½ Halaman, ⅓ Halaman atau seterusnya
Materi tersebut dipahami arti kalimat per kalimatnya kemudian terlebih dahulu
Setelah paham artinya, kemudian dihafal ayat-per-ayat dengan dibaca berulang-ulang hingga lancar. Adapun cara penyambungannya antara ayat satu dengan ayat lain yaitu dengan relevansi/ hubungan ayat sesuai dengan kefahaman makna ayat
5. Metode via device (Recorder)Pada prinsipnya sama dengan metode dengan bimbingan guru

Keutamaan AlQur'an

Keutamaan AlQur'an
Sahabat sekalian, kiata tentu sudah mengetahui bahwa Alqur’an merupakan kitab suci kita. Merupakan rujukan hukum pertama kita, merupakan mu’jizat yang terpelihara keasliannya hingga akhir zaman. Namun sayangnya, banyak sekali diantara kita yang enggan berinteraksi dengannya. Banyak sekali umat islam yang lebih suka memebaca koran daripada membaca Qur’an. Nah, supaya kita mencintai Qur’an dan menjadi terpacu untuk menjadi sahabat Qur’an maka kami tampilkan hadist-hadist yang berisi keutamaan membaca Quran. Mari kita perhatikan dengan seksama.
Dari an-Nawwas bin Sam’an r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Al-Quran itu akan didatangkan pada hari kiamat nanti, demi-kian pula ahli-ahli al-Quran yaitu orang-orang yang mengamalkan al-Quran itu di dunia, didahului oleh surat al-Baqarah dan surat ali-lmran. Kedua surat ini menjadi hujah untuk keselamatan orang yang mempunyainya-yakni membaca, memikirkan dan mengamalkan. (Riwayat Muslim)
Dari Usman bin Affan r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sebaik-baik engkau semua ialah orang yang mempelajari al-Quran dan mengajarkannya pula.” (Riwayat Bukhari)
Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Orang yang membaca al-Quran dan ia sudah mahir dengan bacaannya itu, maka ia adalah beserta para malaikat utusan Allah yang mulia lagi sangat berbakti, sedang orang yang membacanya al-Quran dan ia berbolak-balik dalam bacaannya-yakni tidak lancar - juga merasa kesukaran di waktu membacanya itu, maka ia dapat memperoleh dua pahala.” (Muttafaq ‘alaih)
Dari Abu Musa al-Asy’ari r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: Perumpamaan orang mu’min yang suka membaca al-Quran ialah seperti buah jeruk utrujah, baunya enak dan rasanyapun enak dan perumpamaan orang mu’min yang tidak suka membaca al-Quran ialah seperti buah kurma, tidak ada baunya, tetapi rasanya manis. Adapun perumpamaan orang munafik yang suka membaca al-Quran ialah seperti minyak harum, baunya enak sedang rasanya pahit dan perumpamaan orang munafik yang tidak suka membaca al-Quran ialah seperti rumput hanzhalah, tidak ada baunya dan rasanyapun pahit.” (Muttafaq ‘alaih)
Dari Abu Umamah r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Bacalah olehmu semua akan al-Quran itu, sebab al-Quran itu akan datang pada hari kiamat sebagai sesuatu yang dapat memberikan syafaat - yakni pertolongan - kepada orang-orang yang mempunyainya.” (Riwayat Muslim)
Maksudnya mempunyainya ialah membaca al-Quran yang di-lakukan dengan mengingat-ingat makna dan kandungannya lalu mengamalkan isinya, mana-mana yang merupakan perintah dilaku-kan dan yang merupakan larangan dijauhi.
Dari Umar bin al-Khaththab r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya Allah mengangkat derajat beberapa kaum dengan adanya kitab al-Quran ini - yakni orang-orang yang beriman - serta menurunkan derajatnya kaum yang Iain-Iain dengan sebab al-Quran itu pula - yakni yang menghalang-halangi pesatnya Islam dan tersebarnya ajaran-ajaran al-Quran itu.” (Riwayat Muslim)
Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Tidak dihalalkanlah dengki itu, melainkan terhadap dua macam orang, yaitu: Orang yang diberi kepandaian oleh Allah dalam hal al-Quran, lalu ia berdiri dengan al-Quran itu - yakni membaca sambil memikirkan dan juga mengamalkannya - di waktu malam dan waktu siang, juga seorang yang dikaruniai oleh Allah akan harta lalu ia menafkahkannya di waktu malam dan siang - untuk kebaikan.” (Muttafaq ‘alaih)
Dari al-Bara’ bin ‘Azib r.a., katanya: “Ada seorang lelaki membaca surat al-Kahfi dan ia mempunyai seekor kuda yang diikat dengan dua utas tali, kemudian tampaklah awan menutupinya. Awan tadi mendekat dan kuda itu lari dari awan tersebut. Setelah pagi menjelma, orang itu mendatangi Nabi s.a.w. menyebutkan apa yang terjadi atas dirinya itu. Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Itu adalah sakinah* - ketenangan yang disertai oleh malaikat - yang turun untuk mendengarkan bacaan al-Quran itu.” (Muttafaq ‘alaih) Dalam Hadisnya Zaid bin Tsabit r.a., katanya: “Saya berada di samping Rasulullah s.a.w., lalu beliau dilutupi oleh sakinah.” Yang dimaksudkan ialah ketenangan ketika ada wahyu turun pada beliau. Di antaranya lagi ialah Hadisnya Ibnu Mas’ud r.a.: “Tidak jauh bahwa sakinah itu terucapkan pada lisannya Umar r.a.” Ada yang mengatakan bahwa sakinah ialah kedamaian dan ada yang mengatakan kerahmatan.
Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa yang membaca sebuah huruf dari kitabullah -yakni al-Quran, maka ia memperoleh suatu kebaikan, sedang satu kebaikan itu akan dibalas dengan sepuluh kali lipat yang seperti itu. Saya tidak mengatakan bahwa alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif adalah satu huruf, lam satu huruf dan mim juga satu huruf.” Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.
Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya orang yang dalam hatinya tidak ada sesuatu apapun dari al-Quran - yakni tidak ada sedikitpun dari ayat-ayat al-Quran yang dihafalnya, maka ia adalah sebagai rumah yang musnah - sunyi dari perkakas.” Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.
Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash radhiallahu ‘anhuma dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Dikatakanlah - nanti ketika akan masuk syurga - kepada orang yang mempunyai al-Quran - yakni gemar membaca, mengingat-ingat kandungannya serta mengamalkan isinya: “Bacalah dan naiklah derajatmu - dalam syurga - serta tartilkanlah - yakni membaca perlahan-lahan - sebagaimana engkau mentartilkannya dulu ketika di dunia, sebab sesungguhnya tempat kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca,” maksudnya kalau membaca seluruhnya adalah tertinggi kedudukannya dan kalau tidak, tentulah di bawahnya itu menurut kadar banyak sedikitnya bacaan.
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih
Pustaka :Kitab Riyadhus Shalihin karya imam Nawawi
Sumber: www.matasalman.wordpress.com