Minggu, November 15, 2009

Tujuan Akhir tiap Manusia

Tujuan Akhir Tiap Manusia Buat halaman ini dalam format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Oleh Eric Kairupan

Sesungguhnya apabila kita menyadari bahwasanya tidak ada yang namanya kehidupan abadi di dunia melainkan nanti ketika berada dalam kehidupan di akhirat. Dunia ini bukanlah merupakan tujuan akhir setiap kehidupan tetapi hanyalah tempat persinggahan sementara untuk menuju kepada keabadian, yaitu abadi di dalam surga atau selama-lamanya di neraka. Dan dunia ini adalah ladang untuk kita mempersiapkan bekal menuju tempat yang telah dijanjikan Allah Subhaanahu wa Ta’aala.

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits, “Ad-dunya mazra’atul akhirah,” Dunia adalah ladang untuk akhirat. Dan ini menunjukkan bahwa antara dunia dengan akhirat ada sebuah kesinambungan dan bukan merupakan dua hal yang terpisah, diawali dengan menjalani sebuah kehidupan di dunia dan diakhiri dengan menjalani kehidupan di akhirat.

Dunia adalah tempat kita untuk melakukan berbagai macam kegiatan, terutama yang berkaitan dengan aktifitas ibadah sehingga akan berakhir dengan kebahagiaan nantinya, baik di dunia dan di akhirat. Namun sebaliknya bila semasa di dunia segala kegiatan yang dikerjakan jauh dari hal-hal yang Allah Ta’aala inginkan, maka tentu nantinya akan berakhir dengan kerugian.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam Al-Qur’an di surat Al Israa’ (17) ayat 7, “In ahsantum ahsantum li anfusikum wa in asa’tum fa lahaa,” Jika kamu berbuat kebaikan berarti kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat kejahatan maka akibatnya adalah bagi dirimu sendiri.

Dalam Al-Qur’an dijelaskan kalau Allah Ta’aala telah memerintahkan kepada seluruh umat manusia (dan jin) untuk berbuat kebaikan, dan hal itu difirmankan dalam surat An Nahl (16) ayat 90, “Innallaaha ya’muru bil ‘adli wal ihsaani wa iita-i dzil qurbaa wa yanhaa ‘anil fahsyaa-i wal munkari wal baghyi ya’izhukum la’allakum tadzakkaruun,” Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, memberi pertolongan kepada kerabat dan melarang berbuat yang keji, mungkar dan zalim, Allah mengajari kamu agar kamu mendapat peringatan.”

Bagi mereka yang ketika selama hidupnya sering dan banyak melakukan kebaikan maka akhir dari hidupnya juga akan mendapatkan kebaikan yang hakiki dari Allah dan digolongkan oleh-Nya masuk menjadi golongan hamba-hamba Allah yang bertakwa, seperti yang difirmankan-Nya dalam Al-Qur’an di surat An Nahl (16) ayat 30, “Wa qiila lil ladziinat taqau maadzaa anzala rabbukum qaalu khairal lil ladziina ahsanuu fii haadzihid dun-yaa hasanatuw wa la daarul aakhirati khairuw wa la ni’ma daarul muttaqiin,” Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa, “Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhan kamu?” Mereka menjawab, “Kebaikan.” Bagi mereka yang berbuat kebaikan di dunia ini akan memperoleh kebaikan dan sesungguhnya negeri akhirat lebih baik, dan itulah sebaik-baik tempat orang-orang yang bertakwa.”

Di dalam ayat yang berbeda yaitu ayat 97, Allah Ta’aala berfirman, “Man ‘amila shaaliham min dzakarin au untsaa wa huwa mu’minun fa la nuhhyi-yannahuu hayaatan thayyibataw wa la najziyannahum ajrahum bi ahsani maa kaanuu ya’maluun,” Barangsiapa yang berbuat kebaikan dari laki-laki atau perempuan dan dia mukmin, niscaya Kami menghidupkannya dengan kehidupan yang baik; dan Kami memberi balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.

Ingat, bahwasanya di Hari Akhir nanti tidaklah seseorang akan menanggung apa yang dikerjakan orang lain melainkan hanya apa-apa yang telah diusahakan olehnya selama hidup di dunia. Allah Ta’aala berfirman dalam surat An Najm (53) ayat 38 sampai dengan 42, “Allaa taziru waaziratuw wizra ukhraa. Wa allaisa lil insaani illaa maa sa’aa. Wa anna sa’yahuu saufa yuraa. Tsumma yujzaahul jazaa-al aufaa, Wa anna ilaa rabbikal muntahaa,” Bahwa tidaklah seseorang yang berdosa akan menanggung dosa orang lain, dan bahwa bagi manusia hanyalah apa yang diusahakannya, dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan. Kemudian Allah akan memberi balasan dengan balasan yang sempurna, dan sesungguhnya kepada Tuhanmu itulah segala kesudahan.***

http://baitul-ikhlas.com/content/view/70/33/

10 Ways to increase our Iman (faith)


Every child is born knowing that his or her Lord is Only One, Allah, regardless of what faith his or her parents may practice. But just because a child is born with this fitra, or natural belief, does not necessarily mean that the child will grow up to be what truly makes a person Muslim, which is ones iman.

It is a duty of every Muslim to keep his or her iman in check. This means one must constantly guard his or her iman and observe whether it has increased or decreased and for what causes. If it has decreased, one must work to increase it before it falls low enough to destroy the heart. There are many ways to increases ones iman and it involves increasing in righteous deeds and refraining from sins, as well as staying away from sinful activities and people who encourage such activities.

There are 10 ways to increase our Iman:

1. Recite and ponder on the meanings of the Quran. Tranquility then descends and our hearts become soft. To get optimum benefit, remind yourself that Allah is speaking to you. People are described in different categories in the Quran; think of which one you find yourself in.

2. Realize the greatness of Allah. Everything is under His control. There are signs in everything we see that points us to His greatness. Everything happens according to His permission. Allah keeps track and looks after everything, even a black ant on a black rock on a black moonless night.

3. Make an effort to gain knowledge, for at least the basic things in daily life e.g. how to make wudu properly. Know the meanings behind Allah's names and attributes. People who have taqwa are those who have knowledge.

4. Attend gatherings where Allah is remembered. In such gatherings we are surrounded by angels.

5. We have to increase our good deeds. One good deed leads to another good deed. Allah will make the way easy for someone who gives charity and also make it easy for him or her to do good deeds. Good deeds must be done continuously, not in spurts.

6. We must fear the miserable end to our lives; the remembrance of death is the destroyer of pleasures.

7. Remember the different levels of akhirah, for instance when we are put in our graves, when we are judged, whether we will be in paradise or hell.

8. Make dua, realize that we need Allah. Be humble. Don't covet material things in this life.

9. Our love for Subhana Wa Ta'Ala must be shown in actions. We must hope Allah will accept our prayers, and be in constant fear that we do wrong. At night before going to sleep, we must think about what good we did during that day.

10. Realize the effects of sins and disobedience- one's faith is increased with good deeds and our faith is decreased by bad deeds. Everything that happens is because Allah wanted it. When calamity befalls us- it is also from Allah. It is a direct result of our disobedience to Allah.


Reference: Islamway.com

Sabar karena Allah


Sabar karena Allah Buat halaman ini dalam format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Oleh Eric Kairupan

Sebuah kata yang sering diucapkan oleh banyak orang, baik itu sebuah ucapan untuk orang lain ataupun perkataan dari orang lain terhadap kita, diberbagai macam suasana; susah, senang, suka dan duka adalah sabar. Yakinlah kata “sabar” ini banyak mengisi hari-hari kita, karena dengan segala kejadian yang kita alami maka tidaklah mungkin ucapan sabar itu terlewatkan di dalam kehidupan. Terutama untuk yang berkaitan dengan kesedihan (duka) atau musibah, pastinya kata sabar kerap kali terucapkan kepada yang sedang terkena musibah itu. Rasanya tidak terlalu sering kata sabar ini diucapkan apabila terjadi dalam suasana penuh kegembiraan atau kesenangan...

Sebenarnya sabar itu adalah sebuah kondisi yang harus dijalani oleh seorang manusia sebagai makhluk ciptaan Allah Subhaanahu wa Ta’aala di dalam mengarungi kehidupan di dunia yang fana ini dalam situasi apapun juga. Artinya kita bersabar tidak hanya di dalam sebuah situasi yang pahit atau menderita , tetapi baik itu di waktu susah dan senang kita diharuskan bersabar menghadapi apapun yang Allah limpahkan kepada kita sebagai hamba-hamba-Nya. Dan kita menjalani kesabaran itu dengan hanya ikhlas serta hanya mengharapkan ridha dari Allah Taabaraka wa Ta’aala.

Allah Ta’aala berfirman di dalam surah Ar Ruum (30) ayat 60: “Fash bir inna wa’dallaahi haqquw wa laa yastakhiffannakal ladziina laa yuuqinuun”. Diterjemahkan; Maka bersabarlah engkau, sesungguhnya janji Allah itu benar dan janganlah engkau tergoncang (tentang kebenaran ayat-ayat Allah) oleh orang-orang yang tiada yakin”.

Dengan bersabar maka seseorang akan terbentuk jiwanya menjadi kuat dan sanggup menghadapi berbagai macam problema dan polemik kehidupannya, ia akan menjadi sebuah sosok manusia yang tidak mudah tergoncang, tidak lekas bingung ataupun panik dan juga akan selalu dapat mengontrol dirinya untuk tidak cepat putus asa dan kehilangan keseimbangan ketika menerima ujian dari Allah ‘Azza wa Jalla. Pada dasarnya sabar itu akan menjadi sebuah senjata yang ampuh dalam menghadapi berbagai macam halangan, rintangan dan tantangan hidup.

Juga dijelaskan di dalam Al-Qur’an bahwa Allah telah memerintahkan kepada hamba-hambanya untuk selalu bersabar, seperti di ayat 17 dari surah Luqmaan (31): “... washbir ‘alaa maa ashaabaka inna dzaalika min ‘azmil umuur”. Diartikan, “... dan bersabarlah atas apa-apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu adalah urusan yang diutamakan (termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah)”.

Mengapa Allah memerintahkan kita sebagai umatnya untuk sabar? Tiada lain karena sifat sabar ini dikaruniakan Allah hanya kepada ciptaan-Nya yang bernama manusia. Sifat sabar tidak diberikan kepada hewan, sehingga binatang hanya selalu menuruti hawa nafsunya saja. Sabar juga tidak diberikan kepada malaikat, dikarenakan malaikat diciptakan Allah dengan tidak ada nafsu kecuali hanya melaksanakan apa-apa yang Allah telah perintahkan kepada mereka.

Tetapi ada satu makhluk selain manusia yang juga mempunyai sifat sabar, yaitu Iblis. Iblis mempunyai sifat sabar, yaitu sangat sabar ketika menggoda manusia supaya menjalankan keinginan Iblis demi memasukkan manusia itu ke dalam neraka nantinya sehingga dapat berjumpa lagi denga Iblis disana. Namun kesabaran Iblis ini tentunya berbeda dengan apa telah Allah ‘Azza wa Jalla fitrahkan kepada kita, yaitu sabar dalam menghadapi segala ujian yang Allah titipkan kepada manusia. Karena bagi hamba-hamba-Nya yang sabar Allah akan memberikan pahala dan kemuliaan seperti yang difirmankan dalam surah An Nahl (16) ayat 96: “Wa la najziyannal ladziina shabaruu ajrahum bi ahsani maa kaanuu ya’maluun”, atau, “Dan sungguh Kami memberi balasan terhadap orang-orang yang sabar akan pahala dengan lebih daripada apa yang mereka kerjakan”.

Sabar juga merupakan tanda dari keimanan dan ketaqwaan seorang manusia terhadap Allah Ta’aala, hal ini dijelaskan pula dalam surah Al-Baraqah (2) ayat 177: “... Wash shaabiriina fil ba’saa-i wadh dharraa-i wa hiinal ba’si ulaa-ikal ladziina shadaquu wa ulaa-ika humul muttaquun”. Artinya; “... dan orang-orang yang sabar dalam kesengsaraan (kesempitan), penderitaan dan pada waktu peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”.

Dalam sebuah hadits dari junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaih wa Sallam dari Abu Na’im yang diriwayatkan oleh Ibnu Mani’ bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Ash shabru nishful iimanii wal waqiinu al iimaanuu kulluhu”, atau; “sabar itu adalah setengah dari iman, dan yakin itu iman seluruhnya”.

taken from: http://baitul-ikhlas.com/index.php?option=com_content&task=view&id=48&Itemid=33

Kamis, Juli 23, 2009

Ikhlas....

IKHLAS, SYUKUR & SABAR
Seorang teman pernah berkata padaku, ‘lapangkanlah hatimu seperti danau yang luas, yang bila dimasukkan segenggam garam ke dalamnya maka tak kan merubah danau itu menjadi asin.’
Itulah prinsip ikhlas, syukur dan sabar.
Ya Rob, bantulah aku meluaskan hatiku seperti danau itu. Danau yang indah, tenang, dengan air yang jernih bewarna biru, dimana di sekelilingnya tumbuh pohon-pohon cemara yang menjulang tinggi dan melindungi serta menambah keindahan danau itu. Tak ada ragu, marah, cemburu, iri dan sakit hati, yang ada hanya suara burung indah yang berkicau serta desir angin sepoi-sepoi. Aku merasa bahagia…
Bahagia…
Bahagia tak perlu dicari sayang, karena semakin dicari tak akan pernah ditemukan, kita akan merasa kecewa
Bahagia itu ada di dalam diri kita sendiri, hati inilah sumber kebahagiaan itu
Seorang wanita bijak pernah berkata padaku, ‘kebahagian itu adalah saat dimana kau bisa menerima dan mensyukuri apa yang kau miliki, karena kau tahu itulah pemberian Tuhanmu, Allah SWT.’
Mendengar nasehat bijak ini, aku teringat cerita seorang yang sangat kaya tetapi tidak pernah merasa bahagia. Dia pergi ke hutan dan meninggalkan semua hartanya, dengan tujuan mencari kebahagiaan. Tapi apa, dia tetap tidak temukan kebahagiaan itu.
Mengertilah aku sekarang kenapa dia tak bahagia, dia tidak bisa mensyukuri apa yang telah diberikan padanya. Dia tidak punya konsep ikhlas dan syukur, dia juga tidak temukan Tuhan dalam pencarian kebahagiaan itu.
taken from : yandriyanti.blogfriendster.com

Pesona Sabar & Syukur

Pesona Syukur Dan SabarOleh : KH Abdullah GymnastiarSemoga Allah Swt. Yang Maha Pemurah mengkaruniakan kepada kita semua nikmatnya rasa syukur atas segala pemberian-Nya dan nikmatnya kesabaran atas semua ujian yang dibebankan-Nya, sehingga kita ditetapkan oleh Allah menjadi bagian dari orang-orang yang layak mendapat tambahan nikmat dan tingginya kedudukan di sisi-Nya seperti yang telah Ia janjikan. Firman Allah Swt: "Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih'" (QS. Ibrahim [14]:7).Syukur dan sabar adalah kunci bagi meningkatnya keimanan akan Allah Swt dalam diri seseorang. Berbagai sarana telah disediakan bagi tumbuhnya rasa syukur dan sabar dalam diri, seperti bersikap menyerahkan segala sesuatu dan merasa ridha pada ketentuan Allah baik kenikmatan ataupun ujian, bertafakur terhadap berlikunya nilai hikmah, evaluasi diri, tuntutan menyempurnakan ikhtiar dan husnudzhan kepada Allah.Syukur dan sabar juga merupakan sarana meningkatkan kualitas diri agar lebih berharga dalam pandangan Allah Swt. Seseorang yang pandai bersyukur akan senantiasa bertahtakan kesabaran, meski berada dalam ujian penderitaan. Wallahu a'lam bish showab (AaGym)

Antara sabar & syukur, mana yang lebih utama?

Syekh Al Hakim At Tirmidzi [205 H – 320H]
Ada yang bertanya tentang kedudukan syukur dan sabar, mana di antara keduanya yang lebih tinggi ?.
Dalam hal ini, banyak pendapat yang telah dikemukakan para ulama terdahulu. Ada yang mengutamakan syukur serta ada pula yang mengedepankan sabar. Masing-masing mengacu kepada apa yang terdapat dalam teks Al Quran dan dalam berbagai riwayat mutawatir.
Marilah kita melihat substansi syukur dan sabar berikut namanya masing-masing. Setiap nama tentu mengarah kepada sesuatu, sebab ia terambil dari sesuatu tersebut hingga menjadi ciri darinya.
Yang dimaksud syukur adalah menyadari karunia yang Allah berikan pada dirinya, sementara yang dimaksud dengan sabar adalah tetap dalam kedudukannya bersama Tuhan.
Syukur merupakan substansi iman, sementara sabar merupakan substansi Islam.
Ketika seorang hamba merasa tenang bersama Tuhan, maka dia disebut mukmin.
Namun ketika menyerahkan diri sebagai hamba, maka dia disebut muslim.
Keduanya terwujud dalam waktu bersamaan, sebab kalbu dalam kondisi bergerak dan bingung mencari Tuhan. Ketika mendapat rahmat, cahaya dan petunjuk, maka kalbu menjadi tenang dan stabil sehingga disebut beriman.
Sebaliknya, ia menjadi gelisah dan gusar ketika cemas terhadap sesuatu. Tatkala rasa cemas itu hilang, maka kalbu kembali tenang hingga disebut beriman. Kata Aamana yang berarti beriman dalam bahasa Arab berasal dari pola Af’ala.
Seorang hamba beriman kepada Tuhan yang dipatuhi dan ditaati.
Dengan begitu, dia menjadi seorang muslim dalam pengertian menyerahkan dirinya untuk patuh kepada Tuhan. Disinilah, dia disebut mukmin sekaligus muslim.
Kedua nama tersebut melekat padanya dalam waktu yang bersamaan. Kemudian dia diperintah untuk membuat pengakuan agar kehormatan, darah dan hartanya terjaga dari makhluk.Siapa yang menegakkan kehormatan tersebut akan diberi pahala dan siapa yang melanggar akan diberi hukuman. Tuhan juga akan melanggar akan diberi hukuman.
Tuhan juga akan memberikan apa yang menjadi haknya. Selanjutnya, dia harus memenuhi konsekuensinya sebagai seorang mukmin dan muslim sepanjang hidupnya.
Dia pun meletakkan dua hal di hadapannya tanpa ada yang ketiga.
Satu hal berupa apa yang Dia perbuat terhadapmu, dan satu hal lagi berupa apa yang kamu perbuat. Yang Dia perbuat terhadapmu adalah berbagai ketetapanNya atas kondisimu berupa mulia dan hina, miskin dan kaya, sehat dan sakit, aman dan cemas, nikmat dan sengsara, lapang dan bencana, dicintai dan dibenci.
Yang harus kamu lakukan dalam menghadapi berbagai kondisi di atas adalah kalbumu harus menerima semua perbuatanNya dengan penuh ridha’.
Demikian pula dengan lisanmu. Jika tidak mampu menghadapi hal tersebut dengan ridha karena syahwat yang ada pada dirimu, maka kamu harus bersabar dengan tetap teguh untuk tidak berbuat maksiat kepadaNya.
Hal lain yang harus kamu perbuat berupa perintah dan larangan. Kamu harus mengerjakan kewajiban yang diperintahkan dan menjauhi segala yang dilarang. Kamu harus memenuhi perintah dan larangan tersebut.
Dengan begitu, kamu telah menyerahkan diri dan hartamu sebagai bentuk pengabdian kepadaNya. Apabila kamu bisa menutup hidupmu dengan cara demikian dan menemui Tuhan dalam posisi sebagai hamba, maka itu berarti kamu telah betul-betul menjadi mukmin, dan muslim. Dosa dan hisab telah gugur darimu. Sebaliknya, siapa yang hanya memenuhi sebagiannya serta mencampur antara kebaikan dan keburukan, maka dia wajib menjalani hisab sesuai dengan kadar percampurannya. Demikian penjelasan yang cukup memadai tentan iman dan Islam. Ini menjadi kata akhir yang moderat dari pendapat berbagai pihak yang berseberangan. Sebagian memang berpendapat bahwa Islam dan iman adalah satu, sementara yang lain berpendapat bahwa keduanya berbeda.Kita kembali kepada persoalan syukur dan sabar. Dari segi bahasa, syukur adalah terbukanya kalbu hingga karunia Tuhan tampak padamu. Di dadamu, karunia Allah selalu terlihat pda sesuatu yang Dia berikan padamu. Diriwayatkan dari Al Hasan Al Bashri bahwa Musa bertanya, “Tuhan, bagaimana cara Adam bersyukur kepadaMu ?” Tuhan Menjawab, “Dia mengetahui hal itu bersumber dari-ku, itulah bentuk syukurnya.”Pengetahuan berasal dari kata ‘alamat [tanda]. Ia adalah gambaran atau bayangan tentang-Nya. Dada meruupakan wadah kalbu, sama seperti rumah di dalamnya, ada lentera terang yang bergantung di dinding. Jika kamu meletakkan jari-jarimu di antara lampu dan dinding, maka pasti tampak bayang-bayang di atas dinding.
Telunjukmu tersebut akan tampak oleh matamu. Ia bisa melihat jumlah jari-jarimu, entah bertambah atau berkurang, dan juga bisa melihat bentuk wajahmu. Demikan pula dengan kalbu. Sesuatu yang sering diingat kalbu akan terlihat olehmu. Bayangannya akan tampak. Namun, jika kamu mengingat Tuhan, maka bayanganNya tidak nampak, sebab yang bersinar adalah cahayaNya, sehingga seluruh dada menjadi terang laksana cermin. Jika cermin tersebut bertemu dengan cahaya matahari, maka ia menjadi terang dan rumahpun penuh terisi oleh cahayanya. Dmeikianlah gambaran tentang syukur. Namanya menunjukkan sifatnya.Sifat dan gambaran syukur adalah bahwa ia dimulai dengan mengenal nikmat, karena mengenal nikmat adalah jalan untuk mengenal Sang Pemberi nikmat. Oleh karenanya, pengertian syukur sebagaimana yang disebutkan oleh Ibn Al Qayyim dalam Madaarij Al Salikin ada tiga yaitu
(1) mengenal nikmat,
(2) menerimanya, dan
(3) memujinya.
Mengenal nikmat terwujud lewat rasa papa dan butuh kepadanya.
Memujinya adalah dengan memuji Zat Yang Memberi nikmat yang terwujud dalam dua bentuk, yaitu bersifat umum dan bersifat khusus.
Yang bersifat umum adalah menyadariNya sebagai Zat Yang Maha Pemurah dan banyak memberi, sementara yang bersifat khusus adalah menceritakan nikmat Allah yang diberikan lewat dirinya. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah, “Adapun yang terkait dengan nikmat Tuhanmu, maka ceritakanlah.”Terkait dengan sabar, ia terambil dari kata Ashbaar, yang bermakna menjadikan sesuatu sebagai obyek atau meninggikan sesuatu untuk menjadi sasaran busur panah.
Jadi, sabar terwujud dalam bentuk keteguhan hamba untuk menerima panah ketentuan Tuhan bagaikan sasaran busur panah manusia yang tidak miring ke kiri atau ke kanan. Ia tidak bergeser dari tempatnya, sebab syarat untuk menjadi hamba Tuhan adalah percaya dan pasrah.Kepasrahan tersebut berarti menerima semua ketentuanNya. Apabila dia dihadapkan pada sebuah ketentuan, lalu meninggalkan tempat, lari dan menentang Tuhan karena ketentuan yang menimpanya berarti dia tidak siap menerima.
Dengan demikian, syukur adalah menyadari nikmat dan karunia yang ada dengan cara memujiNya, sementara sabar adalah keteguhan dan ketabahan diri untuk tetap berada di hadapan Tuhan sebagai sasaran tembak yang dengan itu Dia memujimu. Jadi, di dalam syukur ada menampakkan pujian terhadapmu. Syukur adalah nikmat Tuan tampak padamu, sehingga kamu menyanjungNya dan mengucapkan pujian untukNya. Al Hamd yang berarti pujian, dan Al Madh yang berarti sanjungan memiliki makna yang sama. Hanya saja, Al Hamd tertuju kepada kreasiNya, sedangkan Al Madh tertuju kepada sifatNya.Selanjutnya, sabar adalah ujian untuk melihat kebaikan dan keburukanmu. Dengan cara seperti itu, akan terlihat apakah kamu tetap teguh dihadapanNya dan apakah kamu siap menjadi sasaran tembakNya. Dari sana pula akan tampak kejujuranmu. Dia memujimu untuk melihat bahwa dirimu benar-benar bersyukur. Allah berfirman, “dalam semua kejadian itu terdapat bukti kekuasaan Allah bagi orang yang selalu sabar dan bersyukur.” [QS Ibrahim (14) : 5]Pada ayat di atas, Allah mengungkap kata sabar dengan pola fa’al dan mengungkap kata syukur dengan pola fa’ul. Dia mendahulukan sabar sebelum syukur, karena sikap sabar memperlihatan rasa syukur. Syukur tersebut tersimpan di dalamnya, sebagaimana api tersembunyi di dalam batu. Ujian ibarat sebatang kayu yang memunculkan api lewat bara. Ketika batu tersebut dinyalakan, maka tampaklah api yang tersembunyi tadi.Demikian pula dengan syukur. Syukur adalah menyadari nikmat, mengungkap nikmat, menghargai pemberian, tunduk padaNya, tawadhu’ atas keagunganNya, dan disertai kalbu yang senang. Ini semua merupakan rahasia yang tersembunyi di dalam kalbu.Ketika diberi ujian, maka dia tetap bersabar. Dia diuji guna mengungkap kebaikan yang ada dalam dirinya. Kemudian manakala ridha, maka itu berarti dia menerima ujian tersebut. Dia dipukul dengan kayu terbesar agar semua api menyala.Demikianlah perumpamaan syukur dan sabar. Syukur adalah kalbu senang menerima nikmat Tuhan. Dialah Tuhan yang disanjung olehmu. Ketika kamu diberi ujian dan bersabar, maka kamu yang akan disanjung bersama Tuhan. Apabila Dia mempekerjakan dirimu pada sesuatu yang mengandung sanjungan terhadap Tuhan secara murni dan tulus, maka hal itu lebih baik bagimu ketimbang kamu dipekerjakan pada sesuatu yang mengandung sanjungan terhadapmu dan sanjungan terhadap Tuhanmu, karena sanjungan adalah bagian dari imbalan. Jika kamu diberi imbalan di dunia, maka itu berarti bagianmu di sana akan berkurang.Salah satu kedudukan syukur adalah Allah memuji para nabi dan orang-orang pilihanNya, serperti Nuh dan Ibrahim, sebagai orang yang bersyukur. Tentang Nabi Nuh AS, Allah berfirman, “Dia adalah hamba yang banyak bersyukur.” [QS 17 : 3]
Lalu tentang Nabi Ibrahim AS, Allah berfirman, “Dia telah memilih dan memberikan petunjuk padanya.” [QS 16 : 12]
Tentang para rasul lainnya, Allah berfirman, “semuanya termasuk orang yang sabar.” [QS 21 : 85]Allah menyebutkan sikap syukur khusus untuk kedua nabi tersebut, padahal semua nabi bersyukur. Allah juga menyebutkan sikap sabar secara umum, padahal mereka semua bersabar.Orang yang bersyukur, apinya telah tampak sehingga tidak perlu lagi menyalakan kayu. Berbeda dengan orang yang sabar.
Api orang yang bersabar masih perlu dinyalakan dengan kayu.Memang ada di antara mereka yang apinya mudah menyala, karena batinnya telah kering dari syahwat. Namun ada pula yang sukar menyala, karena batinnya basah oleh syahwat. Demikian pula batu dalam kondisi lembab dan dipukul dengan kayu, maka ia tidak akan menyala.Salah satu kedudukan syukur adalah Allah SWT menyebutkannya dalam Al Quran dan berkata, “Hendaknya kamu bersyukur kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.” [QS 31:14]
Terkait dengan sabar, Allah berkata, “Sabarlah terhadap ketentuan Tuhanmu.” [QS 52:48]“Jika kalian bersabar, maka hal itu lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” [QS 16:13]Allah menjelaskan bahwa syukur adalah untukNya, sementara sabar adalah untuk mereka yang bersabar. Tentu saja sangat jauh perbedaan antara keduanya. Yang pertama untukNya dan yang kedua untukmu.Di antara kedudukan syukur adalah Dia menyebutkannya dengan berkata, “sedikit sekali dari hambaKu yang bersyukur.” [QS 34:13]Pasalnya, yang beramal untuk Tuhan sangat sedikit. Sebagian besar hamba beramal untuk diri mereka sendiri dengan mencari dan mengharap ridha Allah. Sangat sedikit orang yang beramal untukNya sebagai bentuk rasa syukur.Kita juga mengetahui bahwa Nabi SAW berdiri melakukan shalat malam hingga kedua kaki beliau bengkak padahal dosa-dosa beliau sudah diampuni. Lalu ketika beliau ditanya, “Rasululah, anda masih melakukan hal ini, padahal doa anda yang lalu dan yang akan datang telah diampuni ?” Beliau menjawab, “Tidakkah aku layak menjadi hamba yang bersyukur ?.”Syukur adalah perbuatan orang-orang merdeka, sementara sabar adalah perbuatan para hamba. Jadi, dimulai dari menghamba baru kemudian merdeka. Rasulullah SAW beramal sebagai bentuk rasa syukur setelah Dia memerdekakan dan mengampuni semua dosanya. Beliau memulai dengan bersabar, kemudian bersyukur.Setiap orang yang diuji juga selalu dimulai dari yang paling ringan hinga yang paling berat. Ujian untuk bersabar lebih mudah ketimbang ujian untuk bersyukur. Bukankah Rasulullah SAW bersabda “Aku lebih khawatir terhadap ujian kelapangan yang menimpa kalian ketimbang ujian kesulitan.” Menanggapi hadis ini, Abd Al Rahman berkata, “Kami diuji dengan kesulitan dan kami bisa bersabar. Lalu kami diuji dengan kemudahan, ternyata kami tidak bisa bersabar.”Mereka yang diuji lalu keluar tanpa mendapat kesulitan lebih tinggi derajatnya daripada mereka yang keluar dari kesulitan. Demikian pernyataan Nabi Isa AS, “Tidak ada hamba yang bertakwa dan tidak ada orang merdeka yang mulia.”Penjelasan bahwa hamba terdiri atas dua jenis.Pertama, hamba yang dilahirkan dalam keadaan merdeka dan mulia. Dia bebas dari syahwat, memiliki bentuk tubuh yang baik, akhlak yang bagus, jiwa yang suci, dan asal tanah yang lembut. Bukankah tanah yang semacam itu bisa dibentuk dan bisa memanjang ? siapapun yang tercipta dari jenis tanah tersebut, maka tabiatnya akan lembut, mulia dan merdeka.Kedua, hamba yang dilahirkan oleh ibunya dalam kondisi buruk, terlaknat, dan penuh syahwat. Hal itu disebabkan asal tanahnya yang keras dan kering. Akhlaknya kotor dan jiwanya kasar. Manakala iman dan rasa takut terhadap Tuhan menyelimutinya, maka dia akan tunduk. Dia juga menjadi hamba yang bertakwa. Hanya saja pengabdiannya tidak betul-betul murni, tetapi masih bercampur. Dia masuk ke dalam tingkat pertengahan, sementara yang pertama cekatan dalam berbuat kebaikan dengan ijin Allah. Itulah karunia yang besar. [QS Al Fathir (35) : 32]Dia beramal dengan bersabar dalam ketaatan dan bersabar dalam meninggalkan maksiat. Sepanjang hidupnya, dia selalu dalam kondisi terbebani. Sementara golongan pertama melewati tingkatan ini menuju tingkatan makrifat. Tempatnya berada di dekat Tuhan dan di hadapan pintuNya. Dia beramal berlandaskan rasa syukur, cinta dan rindu.Dia berada di kebun agama. Beban-beban agama tidak lagi terasa baginya. Allah berfirman, “Sangat sedikit hambaKu yang bersyukur” [QS 34:13]Dia tidak mengatakan, “sangat sedikit hambaKu yang bersabar.” Yang paling sedikit dari sertiap golongan itula yang paling mulia. Bukankah mereka yang mukmin hanya sedikit bila dibandingkan yang kafir ?. Yang bertakwa juga hanya sedikit bila dibandingkan orang-orang mukmin yang ada. Para nabi hanya segelintir bila dibandingkan jumlah para wali. Begitu juga dengan para rasul. Mereka hanya sedikit bila dibandingkan dengan jumlah para nabi.Di antara kedudukan syukur lainnya adalah bahwa Allah berfirman, “Kami akan memberi balasan kepada mereka yang bersyukur.” [QS 3:145]Dia juga berfirman, “Mereka yang bersabar akan dipenuhi upah mereka tanpa hisab.” [QS 39:10] Di sini, Allah menyebut kata upah karena sebagai ganti dari kesulitan yang dialami oleh orang-orang yang bersabar. Mereka tegar menghadapi kesulitan dengan mengharap imbalan, sehingga Allah memberikan upahnya.Beberapa dengan orang yang bersyukur kepadaNya. Mereka beribadah dengan mengorbankan diri sehingga Allah menyebut kata balasan. Balasan berarti imbalan yang diberikan oleh majikan kepada hambanya. Jika orang yang bersyukur mendapat balasan seperti itu, maka orang yang sabar bekerja dan beramal dengan mengharap imbalan dan upahnya diberikan di surga tanpa hisab. Orang yang sabar diuji dan bersikap tegar sehingga diberi upah, sementara orang yang bersyukur selalu memberi, bersikap tawadhu dan murah hati, sehingga diberi balasan. Upah orang yang sabar berupa surga sebagai pengganti dari dirinya yang telah diuji, sementara orang yang bersyukur dibalas dengan kehormatan dan kemuliaan. Tentu saja sangat jauh perbedaan antara keduanya. Yang satu berupa surga dan yang lainnya berupa kemuliaan dari Tuhan.Surga menjadi ganti dari jiwa yang pasrah kepada Tuhan, tegar dan mendapat ujian dalam menjalani kepasrahan. Di sisi lain, kedekatan dengan Tuhan menjadi pengganti dari kalbu yang memutuskan berbagai sebab dalam menuju Penciptanya. Ini adalah amal yang didasarkan pada pengorbanan jiwa, tanpa melihat kepada upah yang ada, sementara orang yang sabar beramal untukNya dalam bentuk yang telah dijelaskan sebelumnya.Salah satu kedudukan syukur adalah bahwa lawannya berupa kufur [QS 14:7], sementara lawan sabar adalah sikap mengeluh [QS 14:21]. Kufur dimurkai dan sikap mengeluh berdosa, karena tidak bersyukur berarti lalai terhadap Tuhan dan tidak memujiNya, sementara tidak bersabar berarti ia telah tergoyahkan oleh kesulitan. Dengan demikian, seseorang mengeluh karena musibah yang melemahkannya.Di antara kedudukan syukur lainnya adalah bahwa Allah berfirman, “jika kalian bersyukur, pasti Aku akan tambahkan untuk kalian.” [QS 14:7] Tambahan atas sesuatu berasal dari jenis yang sama. Dalam hal ini, Allah menjadikan tambahan atas syukur berupa syukur yang lain. Pasalnya, ketika mata ini melihat karunia Tuhan, maka Dia akan menyegerakan balasan untuknya di dunia, yaitu Dia menambahkan cahaya padanya. Itulah tambahan atas syukur yang ada sehingga ia bertambah melihat. Tambahan cahaya tersebut menjadi pendukung baginya untuk berjalan menuju Allah.Ahli Sabar dan Ahli SyukurOrang yang sabar berdiri di tempatnya sambil dilempari oleh berbagai kesulitan agar tetap tegar dan memperlihatkan ketulusannya dalam menyerahkan diri. Dengan begitu, kedudukannya naik dan pengabdiannya tulus. Di pihak lain, orang yang bersyukur akan mendapat berbagai karunia dan pemberian agar mendekat sehingga keinginannya menjadi bersih. Orang yang bersyukur mengayunkan tangannya sambil mendekat sebagai rasa hormat, cinta dan rindu kepada Tuhan atas apa yang Dia perbuat kepadanya, sementara orang yang sabar tetap di tempatnya sebagai bentuk kesetiaan kepada Tuhannya.Orang yang bersyukur menundukkan dirinya dengan kebajikan sampai merasa malu sehingga dia kembali kepada Tuhan, sementara orang yang sabar menundukkan dirinya dengan ujian sampai dia mudah dikendalikan sehingga dia pun bisa taat kepada Tuhan.Orang yang bersyukur kembali kepada Tuhan dalam kondisi gembira, sementara orang yang sabar kembali kepada Tuhan dalam kondisi sedih. Syukur adalah kalbu yang gembira terhadap Allah, sementara dalam sabar ada rasa bingung dan kecewa. Syukur adalah lewat karunia dan nikmat, sementara sabar adalah lewat kesulitan dan kesukaran.Syukur adalah menyaksikan kebaikan, karunia, kemurahan, kasih sayang dan rahmatNya. Sementara sabar adalah menyaksikan ketentuanNya. Syukur adalah menyaksikan karunia Allah terhadap hambaNya, sementara sabar adalah menuntut kejujuran dari dirinya. Syukur ibarat obat-obatan kimia yang dituangkan kepada emas sehingga menjadi emas, sementara sabar ibarat api yang membersihkan emas serta membersihkan karatnya akibat banyak dibakar tanpa campuran kimia. Syukur adalah menyaksikan segala sesuatu sebagai milikNya, sedangkan sabar adalah menyerahkan segala sesuatu kepadaNya setelah tertahan untuk dirinya sendiri. Selanjutnya, Dia mengambil segala sesuatu itu dari orang itu.Dalam syukur, kita menyaksikan karunia yang berasal dari Allah. Dalam sabar, kita melihat Allah mendapatinya dalam posisi yang benar semata. Syukur adalah keimanan hamba bahwa segala sesuatu adalah milikNya dan berasal dariNya, sementara sabar adalah keimanan hamba bahwa dirinya adalah milikNya. Syukur adalah kedudukan yang tidak mungkin didapat penduduk neraka di neraka, sebab syukur hanya untuk penghuni surga. Berbeda dengan sabar. Ia adalah kedudukan yang bisa dicapai penduduk neraka, meskipun kesabaran itu tidak bisa diterima oleh mereka.Syukur kekal untuk penghuni surga selama-lamanya, sementara sabar menghadapi ujian dan keselamatan bersumber dari karuniaNya. Karunia berasal dari keindahanNya, sementara ujian berasal dari kekuasaanNya dan kekuasaan itu berasal dari kerajaanNya. Di akhirat nanti keindahanNya diberikan kepada penghuni surga, sementara kekuasaannya ditujukan bagi penghuni neraka.Lihatlah, darimana keselamatan bersumber dan darimana bencana bersumber ?Syukur menyertai kalbu yang gembira karena kemurahan Allah, sementara sabar menyertai kalbu yang pedih karena menerima ketentuan Allah. Kegembiraan adalah tunggangan kalbu dalam berjalan menuju Allah SWT, sementara kepedihan adalah lautan yang diam sehingga membutuhkan kapal dan angin yang baik untuk berlayar.


Posted by Fitri K DJuwono taken from www.pejalan-cahaya.blogspot.com





Selasa, Mei 12, 2009

Seorang bidadari surga


Ummu Ruman Seorang Bidadari Surga

Oleh: Mochamad Bugi
Wanita ini bernama Zainab atau biasa disebut Di’din. Tapi ia lebih sering dipanggil dengan laqab (nama panggilan) Ummu Ruman. Wanita ini anak perempuan dari Amir bin Uwaimir bin Abdullah Syams bin ‘Iqab. Nasabnya berakhir di Kinanah.
Ummu Ruman tinggal di wilayah yang bernama As-Sirat, yaitu sebuah dataran berkontur pegunungan dan berbukitan di Jazirah Arabia. Ketika sampai usia akil balig, ia dinikahkan dengan pemuda sedesanya yang bernama Harits bin Sakhbarah bin Jurtsumah Al-Kaher. Dari pernikahan ini lahirlah seorang putra yang diberi nama Ath-Thufail.
Kemudian Ummu Ruman dan anaknya, Ath-Thufail, dibawa Harits pindah ke Makkah. Di Makkah, keluarga kecil ini tinggal dan mendapat perlindungan dari Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. Sayang, Harits tidak dikarunia Allah swt. dengan umur panjang. Ia meninggal setelah setahun tinggal di Makkah. Abu Bakar kemudian menikahi Ummu Ruman dan merawat Ath-Thufail. Ummu Ruman pun menjadi istri kedua Abu Bakar.
Dari istri pertamanya, Abu Bakar memiliki dua orang anak, yaitu Asma dan Abdullah. Dari pernikahan dengan Ummu Ruman, Abu Bakar pun mendapat dua orang anak, yaitu Aisyah dan Abdurrahman. Selisih usia Asma dan Aisyah sepuluh tahun. Ummu Ruman menyatukan Ath-Thufail, Asma, Abdullah, Aisyah, dan Abdurrahman dalam asuhannya.
Ummu Ruman masuk Islam ketika Abu Bakar masuk Islam. Jadi, ia termasuk salah satu as-sabiqunal awwalun (kelompok pertama yang masuk Islam). Seluruh anak-anaknya mengikuti jejaknya masuk Islam, kecuali Abdurrahman. Dengan begitu, rumah Ummu Ruman adalah rumah kedua yang berada dalam naungan Islam setelah rumah Rasulullah saw.
Berbagai macam siksaan yang dilakukan kafir Quraisy kepada kaum muslimin di Makkah juga menimpa diri Ummu Ruman. Apalagi ia aktif bahu-membahu dengan suaminya, Abu Bakar, menyelamatkan orang-orang yang telah memeluk Islam ketika itu dari gangguan kafir Quraisy.
Sebagai ibu, Ummu Ruman sangat disiplin dan berhasil mendidik anak-anaknya. Sebagai seorang istri, ia sangat menghormati hak-hak suaminya. Dan, ia adalah seorang wanita yang menepati janji lagi bijak bestari. Sifat-sifat mulia itu terekam dalam peristiwa Rasulullah saw. meminang Aisyah.
Muhammad bin Amr menceritakan kepada kami. Ia berkata, Abu Salamah dan Yahya menceritakan kepada kami, ketika Khadijah telah meninggal dunia, Khaulah binti Hakim –istri Utsman bin Mazh’un—datang menemui Rasulullah saw. dan berkata, “Ya Rasulullah, tidakkah engkau menikah lagi?” Beliau berkata, “Dengan siapa?” Khaulah berkata, “Apabila engkau mau, engkau dapat menikahi seorang gadis, atau seorang janda.” Beliau bertanya, “Siapakah gadis tersebut?” Khaulah menjawab, “Putri hamba Allah Azza wa Jalla yang paling engkau cintai di muka bumi, Aisyah binti Abu Bakar.” Beliau bertanya lagi, “Lalu siapakah janda tersebut?” Khaulah menjawab, “Saudah binti Zam’ah. Ia telah beriman kepadamu dan mengikuti segala yang engkau ucapkan.” Rasulullah berkata, “Kalau begitu pergilah kepada keduanya, dan sebutkan namaku kepada mereka.”
Khaulah kemudian datang ke rumah Abu Bakar, dan ketika masuk ia berkata, “Wahai Ummu Ruman, kebaikan dan keberkahan apakah yang dicurahkan Allah Azza wa Jalla kepada kalian?” Ummu Ruman bertanya, “Apakah itu?” Khaulah menjawab, “Rasulullah saw. mengutusku meminang Aisyah untuk beliau.” Ummu Ruman berkata, “Kalau begitu, tunggulah sampai Abu Bakar pulang.”
Setelah Abu Bakar tiba, Khaulah menyampaikan maksud Rasulullah saw. Setelah mendengan kabar itu, Abu Bakar berkata, “Tunggu sebentar.” Abu Bakar pun keluar rumah. Ummu Ruman berkata kepada Khaulah, “Sesungguhnya Muth’im bin Ady pernah menyebutkan nama Aisyah di hadapan putranya, dan demi Allah, Abu Bakar tidak pernah menjanjikan sesuatu lalu melanggarnya.”
Abu Bakar pergi menemui Muth’im bin Ady. Ternyata Muth’im menarik kembali ucapannya karena khawatir anaknya masuk Islam. Setelah itu, Abu Bakar berkata kepada Khaulah, “Panggillah Rasulullah saw. kemari.” Khaulah pun pergi menjemput Rasulullah saw. Tak lama kemudian Abu Bakar menikahkan Rasulullah saw. dengan putrinya, Aisyah, yang ketika itu berusia 6 tahun.
Tak lama setelah pernikahan itu, Rasulullah saw. mendapat perintah untuk berhijrah. Abu Bakar diminta Rasulullah saw. mendampingi. Abu Bakar segera menyampaikan hal itu kepada isterinya, Ummu Ruman. Berita itu tidak membuat Ummu Ruman takut, meski ia harus tetap tinggal di Makkah bersama dengan anak-anaknya di bawah ancaman mara bahaya yang mungkin terjadi. Ummu Ruman justru berkata, “Sesungguhnya keluarga Rasulullah saw. harus menjadi teladan kita.”
Setelah Abu Bakar berangkat mendampingi Rasulullah saw. menuju Madinah, Ummu Ruman tetap melakukan tugas dan perannya seperti biasa. Tak lama kemudian ia menyusul hijrah ke Madinah bersama keluarganya dan keluarga Rasulullah saw., Fathimah, Ummu Kaltsum, Saudah, Zaid bin Haritsah, Abu Rafi’, hamba sahaya Rasulullah saw., Abdullah bin Ariqazh yang diutus Nabi untuk membawa mereka semua ke Madinah. Thalhah bin Abdullah pun turut serta dalam kafilah ini.
Ketika tiba di Madinah, Ummu Ruman berkata kepada suaminya, “Wahai Abu Bakar, tidakkah engkau mengingatkan Rasulullah saw. tentang perkara Aisyah?” Maka Abu Bakar segera berangkat menemui Rasulullah saw. dan berkata kepadanya, “Tidakkah engkau ingin menggauli keluargamu, ya Rasulullah?”
Kisah selanjutnya Aisyah sendiri yang menceritakannya. Aisyah r.a. berkata, “Nabi Muhammad saw. menikahiku pada saat aku berusia 6 tahun. Kami kemudian pergi ke Madinah dan tinggal di kediaman Bani Harits bin Khazraj, ketika itu saya tidak enak badan dan rambut pun rontok. Ibuku –Ummu Ruman—kemudian mendatangiku yang ketika itu aku berada di sebuah ayunan bersama teman-temanku. Ia kemudian memanggilku. Aku pun mendatanginya meski tidak tahu apa yang ia inginkan dariku.
Ia kemudian memegang tanganku dan menghadangku di pintu rumah, hingga aku mulai merasa tidak tenang. Ia kemudian mengambil sesuatu dari air dan mengusapkannya pada wajah dan kepalaku. Ia kemudian memasukkanku ke sebuah rumah yang sudah dipenuhi wanita-wanita Anshar. Mereka berkata, ‘Dengan segala kebaikan dan keberkahan, dan rezeki yang baik.’ Ia kemudian menyerahkanku kepada mereka dan segera mendandaniku, dan hal ini tidak membuatku merasa takut kecuali kedatangan Rasulullah saw. Mereka kemudian menyerahkanku kepada beliau, dan ketika itu aku berusia 9 tahun.” (HR. Bukhari dalam Kitab Manaqib, hadits nomor 3605)
Hubungan Rasulullah saw. dan Aisyah mendapat cobaan yang begitu dahsyat. Peristiwa ini juga berat dirasakan oleh Ummu Ruman, ibu Aisyah. Pada tahun keenam Hijriah, kaum munafikin menghembuskan fitnah yang menyerang kehormatan dan kemuliaan Aisyah. Ketika pulang dari memerangi Bani Musthaliq, Aisyah tertinggal rombongan Rasulullah saw. Ada seorang sahabat menemukan Aisyah dan mengantar pulang ke Madinah.
Sesampai di Madinah Aisyah sakit. Ia meminta izin kepada Rasulullah saw. untuk dirawat di rumah ibunya, Ummu Ruman. Ketika itu sebenarnya sang ibu telah mendengar fitnah yang dihembuskan oleh kaum munafikin terhadap kesucian Aisyah. Ia berusaha menyembunyikan kabar itu dari anaknya.
Dari Masruq bin Ajda’ berkata, Ummu Ruman menceritakan kepadaku seraya berkata, ‘Ketika kami sedang duduk bersama Aisyah, tiba-tiba masuk seorang wanita Anshar dan berkata, “Semoga Allah melakukan yang demikian terhadap fulan!” Ummu Ruman kemudian berkata, “Siapakah orang itu?”
Wanita tersebut berkata, “Ia adalah putraku yang menceritakan desas-desus itu.” Ummu Ruman bertanya, “Apakah desas-desus tersebut.” Wanita itu pun menceritakan isu yang merebak di tengah kota berupa tuduhan terhadap Aisyah r.a. Aisyah kemudian berkata, “Apakah Rasulullah saw. telah mendengar berita tersebut?” Ia berkata, “Ya.” Ia bertanya, “Dan Abu Bakar?” Wanita itu menjawab, “Ya.” Mendengar itu, Aisyah pun jatuh pingsan.
Ketika sadar, Aisyah menemukan dirinya didera demam yang sangat tinggi. Saya –Ummu Ruman—lalu menghamparkan pakaiannya untuk menutupi tubuhnya.”
Tak lama kemudian Rasulullah saw. datang dan bertanya, “Bagaimana kondisi orang ini?” Ummu Ruman menjawab, “Ya Rasulullah , dia didera demam yang sangat tinggi.” Beliau berkata, “Mungkin saja karena desas-desus yang terkait dengan dirinya.” Ummu Ruman menjawab, “Ya.”
Aisyah kemudian duduk dan berkata kepada Rasulullah saw., “Kalaupun aku bersumpah, engkau tidak akan mempercayaiku. Dan bila aku mengatakannya, niscaya engkau tidak akan memaafkanku. Perumpamaan diriku dan dirimu bagaikan Ya’qub dan anak-anaknya yang berkata, ‘Dan Allah Maha Penolong atas apa yang kalian ceritakan.’”
Ummu Ruman berkata, “Beliau kemudian keluar dan tidak mengatakan apapun hingga Allah menurunkan firmanNya tentang kesucian Aisyah. Aisyah kemudian berkata, ‘Segala puji hanya untuk Allah semata, dan bukan pujian untuk seorang pun, juga tidak untuk dirimu.” (HR. Bukhari dalam Kitab Maghazi, hadits nomor 3828).
Setelah peristiwa itu, di tahun keenam Hijriah itu juga, Ummu Ruman wafat karena sakit yang dideritanya. Rasulullah saw. ikut turun ke dalam kuburannya dan berdoa di sana. Beliau berkata, “Barangsiapa yang ingin melihat wanita bidadari surga, hendaklah melihat Ummu Ruman.”

Kamis, April 23, 2009

PERAN PEMUDA DALAM DAKWAH

Saya selalu merasa sangat bergembira kalau bertemu dan harus berbicara di hadapan para pemuda. Ini semua menandakan bahwa pemuda tetap bersemangat dan serius, karena setiap gerakan yang berhasil pasti memiliki kemauan yang kuat, harapan yang jauh ke depan, dan orientasi yang jelas serta terarah terutama di basis pemudanya.
Walaupun kadang-kadang gerakan pemuda kepentok masalah klasik kekurangan dana, misalnya. Hal itu biasa dan terjadi di mana-mana, di setiap waktu dan tempat, bukan hanya di Indonesia dan di masa sekarang saja. Meskipun tidak mempunyai materi berlimpah, semua pergerakan disusun, dirancang, dan dilaksanakan oleh pemuda. Pemuda aktivis boleh miskin materi, tetapi jiwanya kaya, sehingga pantang menyerah dan mengeluh. Mereka tidak mengorbankan iffah, kehormatan diri, hanya untuk meminta-minta, karena pemuda perintis dan pelopor pergerakan yang berhasil adalah mereka yang bermental baja.
Kekuatan moral dan spiritual menjadi modal utama dan pertama dalam setiap pergerakan. Mungkin saja landasan moral dan spiritual sebuah pergerakan salah atau bathil, tetapi pasti punya semangat. Apatah lagi kita yang mempunyai landasan moral dan spiritual yang benar, bersumber dari petunjuk Allah Ta’ala. Kekuatan moral dan spiritual yang benar akan menghasilkan azam dan iradah qawiyah. Bahkan, orang akan menjadi muda selamanya dan bergairah terus, jika bergerak atas landasan moral dan spiritual yang benar. Alhamdulillah, kita telah diberikan karunia itu oleh Yang Mahakuasa.
Modal kedua ialah kemampuan intelektual. Allah sangat merangsang manusia melalui ayat-ayat Al Qur’an yang menyatakan: ‘afala ta’qilun, ‘afala yatafakkarun, dan lain-lain. Menurut penelitian, otak manusia yang terpakai hanya 5% dari volume otak yang sebenarnya. Apalagi otak orang Indonesia yang mungkin tidak mencapai batas maksimal itu. Bayangkan, jika kemampuan otak itu ditambah dengan kekuatan pendidikan (tarbiyah) yang kita jalankan, bagaimana hasilnya. Menurut catatan, anggota gerakan 70% adalah para sarjana yang diberi petunjuk dan kemudahan oleh Allah untuk bergabung dalam jamaah dakwah, itu melebihi kualitas kelompok masyarakat pada umumnya.
Modal ketiga adalah ideologi atau idealisme yang dengannya kita mempunya visi dan misi perjuangan yang jelas. Ini juga merupakan karunia Allah kepada kita berupa pemikiran yang paripurna, bisa memiliki pandangan jauh ke depan, walaupun pada masa-masa sulit. Kita selalu menjadi barisan pelopor dan perintis dalam kejelasan ideologi.
Modal keempat adalah manhaj atau metodologi. Allah tidak hanya memberikan perintah saja, melainkan juga konsepsi dan landasan operasional. Shalat dan haji memang diperintahkan oleh Allah, tetapi dalam pelaksanaannya Allah mencontohkan melalui tindakan Rasulullah. Dalam berjuang dan berjihad pun harus mengikuti Rasul, tidak membeo, tapi memahami dan mengerti maksudnya. Qudwah kepada Rasul merupakan kebutuhan, bukan hanya sekadar kewajiban, karena tanpa Rasul, maka ajaran Islam tak bisa jalan. Rasulullah-lah yang mencontohkan kepada kita, bagaimana dakwah yang jelas, terarah dan sistemik.
Modal kelima adalah kefitrahan. Dinul Islam itulah modal besar, karena sesuai dengan fitrah manusia, tidak berbenturan dengan kultur manusia, binatang, dan ekosistem. Bahkan, Allah menegaskan bahwa semua makhluk itu adalah junud (tentara) Allah. Artinya, kita harus yakin bahwa pergerakan yang bertentangan dengan fitrah manusia adalah bertentangan dengan kehendak Allah, karena semuanya bergerak dalam nuansa dan irama yang sama. Semuanya bertasbih kepada Allah. Jika perjuangan Islam kompak dengan perjuangan alam (universe), maka perjuangan itu akan berhasil. Pohon dan tetumbuhan, binatang, cuaca, gejala alam semuanya menjadi teman-teman perjuangan kita.
Berjuang tanpa fitrah alam akan gagal, karena hukum itu bersifat baku dan tetap sepanjang zaman. Ini adalah modal yang sangat besar, walaupun kita tidak merasakannya. Padahal, bantuan Allah lewat alam (nature) itu sangat banyak. Misalnya, bekerja dalam hujan, tetapi tidak masuk angin, malah hujan itu menjadi penyegar. Bahkan, semuanya itu untuk mengokohkan, jika kita berstatus juga sebagai Jundullah. Caranya, sesuaikanlah sifat jundiyah kita dengan jundiyah angin, binatang, pohon, dan lain-lain.
Rasulullah sering dibantu oleh para jundi alam ini: tumbuhan, binatang, cuaca, dan sebagainya. Bahkan, karamah para sahabat dalam perang Qadisiyah, ketika mereka menyeberang sungai sambil berkata: “Wahai air, kita sama-sama jundullah, bantulah kami karena sedang melaksanakan tugas”. Akhirnya, air yang dalam dan deras itu menjadi dangkal dan tenang untuk dilewati.
Modal keenam adalah modal institusional. Kerja kita adalah kerja jama’ah yang banyak orang tidak melakukannya. Kita memperoleh banyak dukungan dari proses jama’i ini, seperti thawashau bil haq dan thawashau bis shobri. Itu hanya bisa dilakukan dengan jamaah, karena saling mengingatkan itu diperlukan dalam gerakan agar tidak tergelincir. Ba’duhum awliya’u ba’din. Kritik dan peringatan itu perlu.
Kita sedih menyaksikan ada pejabat tinggi pemerintah yang tidak mau dinasehati salah seorang ikhwah. Padahal kita hanya ingin menyelamatkan umat, bukan mengincar jabatan. Tetapi, pejabat tersebut setelah menduduki posisinya justru keenakan dan tidak mau direpoti oleh saran-saran yang berguna bagi umat.
Itu semua hanya bisa dilakukan dalam proses institusionalisasi, ketika tantangan dakwah berat dan sulit. Ada tawashau bil haq wa bis shobri, sehingga menimbulkan daya tahan (QS Ali Imran: 157). Wa ma dla’ufu wa ma istakanu (mereka tidak lemah dan tidak menyerah). Juga dilengkapi dengan tawashau bil marhamah. Tatkala seseorang mendapat musibah dan menderita, maka orang tersebut tidak sendirian, tetapi bersama-sama dengan banyak orang, sehingga potensinya tidak terpuruk.
Modal ketujuh bersifat material. Sebenarnya Allah telah banyak memberikan modal material kepada kita berupa alam semesta beserta segala isinya, tetapi mungkin kita belum bisa mendayagunakannya. Bahkan, dalam al Qur’an surat al Hajj ayat 31, Allah berfirman: “Telah Aku datangkan segala apa yang kamu butuhkan, wa in ta’uddu ni’matallah laa tuhsuha”. Karena kezaliman dan ketidakproporsionalan sikap kita, sehingga tidak memiliki daya inovatif dan kreatif untuk memanfaatkannya. Menyadari dan mensyukuri nikmat Allah itu penting. Bagaimana nikmatnya udara, sehari kurang lebih 350 kilogram kita memakai oksigen untuk tubuh kita, seperlima diantaranya dipakai oleh otak.
Kesadaran memiliki modal dasar itu penting demi iradah qawiyah dan azam yang tinggi. Kalau melihat perjalanan dakwah ke belakang pada tahun 1980-an, ketika Orde Baru berkuasa, bagaimana dakwah ini dikekang, diatur dan dikendalikan oleh pemerintah. Bahkan, dai yang menafsirkan surat Al Ikhlas sebagai ajaran tauhid saja sudah diberangus, sampai dikejar-kejar, sehingga akhirnya tema ceramah diubah menjadi syarat sahnya berwudlu. Justru di masa-masa sulitlah dakwah berkembang dan berekspansi, karena punya modal banyak.
Pada saat itu para muwajjih tidak dijemput dengan mobil, tetapi banyak yang berjalan kaki, karena keadaan ekonomi yang sulit. Cari tempat untuk acara pengajian atau daurah juga sulit. Halaqah dilakukan di kebun binatang, di taman, di lapangan, di kebun raya – tanpa whiteboard dan peralatan tulis memadai. Itu semua karena kita mempunyai kesadaran bahwa kita kaya, yang menyebabkan kita selalu menjadi barisan perintis dan pelopor kebaikan.
Strategi awal dakwah kita adalah harakah at taghyir yang membutuhkan anashir at taghyir. Karena kita membutuhkan banyak unsur perubahan, maka kita perlu mendapatkan akses dakwah pada pusat-pusat perubahan, yaitu markaz at taghyir. Dalam tahap awal, pusat perubahan yang kita akses adalah wilayah ilmiyah, yaitu kampus-kampus dan sekolah-sekolah. Setelah itu kita mengakses wilayah sya’biyah (masyarakat umum) melalui masjid-masjid dan pengajian umum.
Kampus dan sekolah itu pada dasarnya adalah milik umat. Sesudah itu, dakwah dalam amal thullabi dilanjutkan dengan amal mihani (dakwah profesi). Seyogyanya memang amal thullabi dan amal mihani itu disinergikan, karena mengarahkan kemampuan profesional harus dimulai sejak masa mahasiswa.
Amal mihani terdiri dari dakwah di kalangan perusahaan (tenaga kerja) dan pengembangan profesi. Harus disadari bahwa perusahaan-perusahaan umum itu tidak bisa atau sulit dijadikan lembaga perjuangan, sehingga hanya dipenuhi dengan karir, ma’isyah (pekerjaan), rekrutmen dan pengembangan kafa’ah saja. Yang masih lemah dari para aktivis adalah memasuki lembag-lembaga profesi.
Itulah yang bisa dijadikan lembaga perjuangan. Tetapi kenyataannya sekarang lembaga-lembaga profesi itu banyak yang lemah dari sisi perjuangan, hanya sekadar tempat kumpul-kumpul, bagi-bagi proyek, dan kadang-kadang peningkatan kafa’ah saja. Fenomena kelemahan lembaga profesi ini bukan hanya di Indonesia, tetapi terjadi di mana-mana.
Dakwah Islam memandang situasi itu sebagai sesuatu yang besar, bahkan keharusan perjuangan. Di Mesir, tahun 1960-1970 an, aktivitas kemahasiswaan berjaya dan mulai memasuki dakwah profesi. Lembaga-lembaga profesi yang tadinya lemah, maka sepuluh tahun kemudian menjadi kuat dan hampir 90% organisasi profesi dikuasai aktivis dakwah. Ikhwan dan akhwat yang masuk ke lembaga profesi harus kompetitif, jujur dan amanah. Aktivis Kristen Koptik di Mesir pun memilih dan mengakui kepemimpinan aktivis dakwah yang dinilai paling amanah dan memiliki etos perjuangan.
Semua proses tersebut berjalan secara wajar dan terjadi pemberdayaan yang luar biasa terhadap lembaga profesi. Lembaga profesi teknik (persatuan insinyur) tidak hanya bekerja pada bidang teknik, tetapi juga membuat RUU dan advokasi keteknikan yang bernuansa Islam, karena aktivis dakwah mampu mewarnai lembaga tersebut. Akhirnya lembaga profesi itu bertindak seperti partai politik dan pressure groups terhadap pemerintah. Karena aktivis mewarnai dan menguasai banyak lembaga profesi, maka seakan-akan mereka memiliki banyak partai politik dan kelompok penekan yang mengontrol pemerintah dengan kebijakan dasar yang sama.
Pada tahun 1995, pemerintah Mesir menyadari hal itu, sehingga lembaga-lembaga profesi mau dibredel, tetapi sulit karena terkait dengan institusi negara, infrastruktur dan suprastruktur politik. Kalau dibubarkan sulit, karena bertentangan dengan UU dan bisa membentuk lembaga yang baru lagi. Kalau kantornya ditutup, pemerintah dituntut lewat pengadilan. Aktivis bisa membuka kantor yang baru, atau menguasai dan mewarnai lembaga profesi sejenis. Kalau aktivisnya ditangkapi dan dipenjarakan, industri dan pelayanan jasa (terutama rumah sakit, konsultan proyek, dan pengacara) akan mengeluh, karena tidak bisa berjalan, sebab tidak ada tenaga ahlinya. Maka, proses pembangunan pun bisa terhambat.
Kelompok Salsabil di Mesir, misalnya, membuat perusahaan komputer dan berkembang sampai bisa mengikuti tender penyediaan software di Departemen Pertahanan Mesir, karena murah dan paling baik, akhirnya menang. Setelah pejabat militer sadar bahwa perusahaan tersebut milik aktivis dakwah, maka mereka ketakutan dan menggerebek serta menyegel kantornya. Peristiwa itu menjadi berita besar, karena secara beramai-ramai lembaga profesi di Mesir bersuara, mulai dari lembaga profesi teknik, komputer, pengacara dan lainnya, hingga akhirnya dibebaskan dan dibuka kembali.
Para dokter di Mesir juga menggelar acara munasharah untuk kasus Bosnia sampai terkumpul dana sebesar US$ 4 juta, tetapi dilarang pemerintah. Akhirnya kasus itu menjadi berita besar lagi, karena dibela oleh lembaga profesi kedokteran, keperawatan, pengacara dan sebagainya. Kasus itu dibawa ke pengadilan dan akhirnya dinyatakan menang, walaupun dananya terpaksa dibagi dua (fifty-fifty) untuk lembaga pemerintah dan lembaga dakwah.
Jika ada bencana alam, gempa bumi, kebakaran dan sebagainya, aktivis selalu terdepan bersama masyarakat menyantuni korban. Itu semua adalah hasil dakwah thullabi yang dilanjutkan dakwah profesi. Yang lebih penting lagi di mihwar muassasi ini, tanpa pengembangan profesi akan sulit, karena kita membutuhkan para ahli dalam bidangnya yang bisa menjawab dan menjelaskan tantangan zaman melalui kacamata Islam. Konsep-konsep Islam harus dirumuskan dan dilaksanakan sebagai solusi bagi persoalan bangsa ini. Semuanya itu mengharuskan kita, mau tidak mau, untuk terjun dalam lembaga profesi.

Syarat Kemenangan Dakwah

Syarat Kemenangan Dalam Dakwah
Oleh: Fahmi Islam Jiwanto, MA

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa, (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (QS al-Hajj: 40-41)
Ini adalah janji yang Allah ungkapkan berulang kali. Di surat Muhammad, Allah bersabda:
Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS Muhammad: 7)
Siapapun yang konsekuen membela agama ini Allah member jaminan kemenangan. “Jika Allah menolong kamu, Maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), Maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.”
Ayat di atas adalah janji Allah yang pasti terjadi. Hati yang beriman, jiwa yang penuh dengan cahaya bashirah akan menangkap firman Allah ini sebagai jaminan yang pasti dipenuhi. Tidak tersisa sedikitpun keraguan bahwa pembela agama Allah pasti akan mendapatkan kemenangan.
Tapi ternyata Allah memberikan criteria yang cukup spesifik. Sederhana dan jelas. Empat kriterianya: mendirikan sholat, menunaikan zakat, memerintahkan kepada yang ma’ruf, dan melarang dari yang munkar. Tampaknya syarat yang cukup mudah dan simple. Tetapi kalau kita teliti ternyata ayat tersebut tidak berbicara tentang sekedar pekerjaan sholat, zakat dan dakwah. Tetapi ayat tersebut berbicara tentang integritas kuat yang diindikasikan dengan empat hal utama.
Mendirikan SholatMereka yang berhak mendapatkan perolongan Allah itu bukan sekedar mampu mengerjakan kewajiban-kewajiban tersebut dalam kondisi yang biasa-biasa saja. Yang Allah katakan adalah orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka, mereka melakukan itu semua. Sebelum kita membahas tentang empat hal itu, mari kita perhatikan prasyaratnya. Melakukan sholat, zakat, dan tetap memperjuangkan kebenaran dalam kondisi berkuasa dan memiliki posisi, ternyata tidak dapat dilakukan oleh semua orang. Betapa banyak orang-orang yang jika disibukkan oleh pekerjaan-pekerjaannya mereka menawar kedisiplinan dalam sholat. Dengan mudah meninggalkan shalat jamaah dengan berbagai alasan.
Mari bersama-sama kita renungi hadits berikut:
عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « سَوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوفِ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلاَةِ » رواه البخاري
“Dari Anas dari Rasulullah SAW beliau berkata: Luruskan shaf-shaf kalian karena lurusnya shaf adalah bagian dari pendirian shalat.” (HR al-Bukhari)
Beliau mengatakan bahwa meluruskan shof adalah bagian dari mendirikan sholat. Kita telah mengetahui bahwa mengerjakan sholat tidak sama dengan mendirikan sholat. Yang dituntut dari kita adalah mendirikan sholat. Kalau meluruskan barisan sholat saja merupakan bagian dari mendirikan sholat, tentu saja tidak mungkin kita mendirikan sholat jika tidak ada shofnya. Artinya sholat yang tegak adalah sholat berjamaah. Kembali ke ayat 41 surat al-Hajj tadi, bahwa syarat pertama orang-orang yang Allah tolong adalah mereka tetap disiplin sholat berjamaah bagaimanapun sibuknya.
Kalau kita berkaca pada sejarah Islam kita dapat temukan bahwa mereka yang berhasil mengangkat panji-panji Islam di berbagai peperangan adalah orang-orang yang disiplin dalam shalat berjamaah. Ambil contoh misalnya Muhammad al-Fatih yang mampu menaklukkan Konstantinopel ibukota Bizantium. Diriwayatkan bahwa setelah beliau memasuki kota Konstantinopel (sekarang Istanbul) mereka sholat berjamaah. Sebelumnya Muhammad al-Fatih bertanya, “Siapa di antara pasukan Islam ini yang sejak baligh sampai sekarang ini belum pernah tertinggal shalat Shubuh berjamaah? Supaya dia maju menjadi imam.” Tidak ada yang menjawab. Sampai akhirnya beliau sendiri berkata, “Alhamdulillah yang telah menjadikan saya sejak baligh sampai sekarang belum pernah meninggalkan sholat shubuh berjamaah.”
Pada masa kini juga kita dapatkan contoh yang sama. Perdana Menteri Palestina Ismail Haniyah yang terpilih dalam jejak pendapat Islam OnLine sebagai pemimpin Islam terbaik, juga bukan hanya disiplin sholat jamaah. Bahkan beliau adalah imam mesjid yang mengimami shalat tarawih sepanjang Ramadhan tahun lalu. Dan bacaan beliau dikenal begitu menyentuh sehingga jamaah khusyu’ dan banyak yang menangis tersentuh bacaan al-Qur’an beliau.
Pada sisi lain kita temukan bahwa fenomena futur dalam sholat juga adalah indicator utama degradasi dalam peralihan generasi. Allah SWT bersabda:
”Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, Maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS Maryam: 59)
Ayat tersebut bercerita tentang generasi yang melanjutkan generasi-generasi pilihan yang Allah ceritakan pada ayat 58 sebelumnya, generasi para Nabi dan pengikut-pengikutnya yang setia. Masalah yang dihadapi oleh generasi-generasi teladan adalah mereka tidak dilanjutkan oleh generasi selanjutnya dengan kualitas keimanan yang sama. Allah menyebutkan masalah yang pertama dalam generasi tersebut adalah mereka menyia-nyiakan sholat. Kita bisa lihat bahwa sholat adalah criteria pertama yang Allah sebut dalam syarat kemenanga, dan juga shalat adalah indicator terpenting yang muncul dalam kemunduran sebuah umat.
Menunaikan Zakat
Syarat ketiga adalah menunaikan zakat. Ini adalah syarat penting dan bukti utama kebenaran iman. Dalam terminology al-Qur’an dan as-Sunnah kata az-zakat sering diwakili dengan istilah shadaqah seperti pada surat at-Taubah ayat 58 dan ayat 103.Karena itu Rasululah menyatakan :
وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ
“Dan shadaqah adalah bukti.” (HR Muslim)
Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa shadaqah adalah bukti pembenaran orang beriman dan dalil kebenaran imannya secara zhahir dan batin.
Keimanan adalah klaim yang perlu dibuktikan kebenarannya. Zakat adalah bentuk kerelaan untuk memberi dan untuk sedikit berkorban.
Dia juga sebuah mekanisme paten untuk sebuah keberpihakan yang konkret kepada orang lemah dan miskin. Karena itu yang paling pertama disebut dalam masharif az-zakat adalah fakir dan miskin. Karena itulah Rasulullah SAW bersabda tentang pelaksanaan zakat:
صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ
“Shadaqah dari harta mereka yang diambil dari orang-orang kaya mereka dan dikembalikan kepada orang-orang fakir mereka.” (HR al-Bukhari dan Muslim)
Dari sini bisa kita tangkap bahwa orang-orang yang Allah tolong adalah mereka yang menunaikan zakat, sebagai bukti konkret keimanan, pengorbanan, dan pelayanan kepada orang-orang fakir dan lemah. Dan dapat kita pahami bahwa orang-orang yang Allah beri kedudukan di muka bumi layaknya adalah orang-orang yang sangat jelas kapabilitasnya dalam memberikan sevice kepada orang-orang lemah secara khusus dan kepada seluruh rakyat secara umum.
Memerintahkan Kepada Kebaikan dan Melarang dari Kemunkaran
Syarat berikutnya adalah memerintahkan kepada al-ma’ruf. Dan ini bisa dikatakan sebagai the prime mission umat Islam (QS Ali Imran: 110). Artinya kalau kekuasaan tidak dapat berimpact positif langsung kepada penyebaran kebaikan dan eliminasi atau reduksi kemungkaran maka itu adalah kecelakaan sejarah bagi sebuah bangsa. Artinya komitmen untuk menegakkan kebenaran dan kebaikan serta perlawanan terhadap kemunkaran adalah prasyarat mutlak harus dipenuhi untuk layak tampil sebagai pemimpin umat.
Sering terjadi dalam perjalanan umat ada segolongan orang yang berjuang merebut kekuasaan. Mereka meminta dukungan masyaakat dengan janji agar mereka menegakkan agama Allah. Akan tetapi ketika kesempatan untuk menyeru dan membela agama Allah sudah ada di tangan, mereka disibukkan oleh kepentingan masing-masing. Kondisi tersebut mirip dengan kondisi yang disebut dalam surat at-Taubah ayat 75-77:
dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada Kami, pastilah Kami akan bersedekah dan pastilah Kami Termasuk orang-orang yang saleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta.
Orang yang berjanji: “kalau saya berkuasa saya akan menegakkan kebenaran.” Lebih krusial dari pada orang berjanji “Kalau saya kaya saya akan bersedekah.” Sehingga ancaman hukuman kemunafikan bagi orang yang tidak memenuhi janjinya dalam berkuasa lebih keras dari pada ancaman orang yang berjanji sedekah setelah kaya.
Dan bukan main-main akibat ingkar janji seperti itu adalah tumbuhnya kemunafikan dalam hati. Betapa celakanya seseorang yang mendapatkan hukuman ini. Karena tempatnya orang munafiq adalah kerak terendah di dalam neraka. Na’udzu billah min dzalik.

Always Istiqomah

Dari Abu Amr atau Abu Amrah ra; Sufyan bin Abdullah Atsaqafi r.a. berkata, Aku berkata, Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku dalam Islam satu perkataan yang aku tidak akan menanyakannya kepada seorangpun selain padamu. Rasulullah menjawab, “Katakanlah, saya beriman kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim)
Tarjamatur Rawi
Sufyan bin Abdillah Al-Tsaqofi. Nama lengkapnya adalah Sufyan bin Abdillah bin Rabi’ah bin Al-Harits, Abu Amru atau Abu Amrah Al-Tsaqofi. Merupakan salah seorang sahabat Rasulullah saw. Beliau tinggal di Tha’if. Selain mengambil hadits dari Rasulullah saw., beliau juga meriwayatkan hadits dari Umar bin Khatab. Beliau pernah menjadi ‘Amil Umar bin Khatab di Tha’if.
Secara umum, hadits ini memiliki rangkaian sanad yang muttasil dan keseluruhan sanadnya tsiqah, kecuali Hisyam bin Urwah yang dikatakan tsiqah rubbama dallasa (tisqah namun terkadang mentadliskan hadits). Meskipun ulama hadits juga sepakat bahwa beliau merupakan Imam Faqih. Bahkan Imam Abu Hatim Al-Razi sampai mengatakan ‘Ma Ra’aitu Ahfafz Minhu’ (Aku tidak melihat ada orang yang lebih hafidz dari padanya). Dan kendatipun sebagian tidak menerima beliau sebagai perawi yang tsiqah, namun sesungguhnya pada posisi beliau dikuatkan pula melalui jalur sanad yang lain, yaitu oleh Imam Muhammad bin Muslim Al-Zuhri, dan juga melalui jalur Ya’la bin Atha’ Al-Amiri, yang semua sepakat dengan ketsiqahannya.
Gambaran Umum Tentang Hadits
Dilihat dari isi kandungannya, hadits ini menggabungkan dua pokok permasalahan besar dalam Islam, yaitu Iman dan Istiqamah. Iman merupakan implementasi dari tauhid yang merupakan inti ajaran Islam, sedangkan istiqamah merupakan implementasi dari pengamalan aspek-aspek tauhid dalam kehidupan nyata. Dan kedua hal tersebut terangkum dalam hadits singkat ini, melalui pertanyaan seorang sahabat kepada Rasulullah saw.
Makna Hadits
Dari pertanyaan sahabat di atas, yaitu Sufyan bin Abdillah Al-Tsaqafi r.a. tersirat bahwa iman dan istiqamah memiiki urgensitas yang tidak dapat digantikan dengan nilai-nilai lainnya dalam kehidupan. Ini terlihat dari pertanyaan beliau kepada rasulullah saw., ‘Wahai Rasulullah, katakanlah padaku satu perkataan yang aku tidak perlu lagi bertanya pada orang lain selain padamu.’ Kemudian rasulullah saw. menjawabnya dengan dua hal yang terangkai menjadi satu: istiqamah dan iman.
Dua hal ini merupakan aspek yang sangat penting dalam keislaman seseorang. Karena Iman (sebagaimana digambarkan di atas) merupakan pondasi keislaman seseorang bagaimanapun ia. Tanpa Iman semua amal manusia akan hilang sia-sia. Sehingga tidak mungkin istiqamah tegak tanpa adanya nilai-nilai keimanan. Penggambaran Rasulullah saw. dalam hadits ini, seiring sejalan sekaligus menguatkan firman Allah swt. dalam Al-Qur’an tentang istiqamah (QS. Fusshilat/ 41 : 30).
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”
Hakekat Istiqamah
Ditinjau dari segi asal katanya, istiqamah merupakan bentuk mashdar (baca; infinitif) dari kata istaqama yang berarti tegak dan lurus. Sedangkan dari segi istilahnya dan substansinya, digambarkan sebagai berikut :
Abu Bakar al-Shiddiq.
Suatu ketika orang yang paling besar keistiqamahannya ditanya oleh seseorang tentang istiqamah. Abu Bakar menjawab, ‘istiqamah adalah bahwa engkau tidak menyekutukan Allah terhadap sesuatu apapun. (Al-Jauziyah, tt: 331).
Mengenai hal ini, Ibnu Qayim Al-Jauzi mengomentari, bahwa Abu Bakar menggambarkan istiqamah dalam bentuk tauhidullah (mengesakan Allah swt.). Karena seseorang yang dapat istiqamah dalam pijakan tauhid, insya Allah ia akan dapat istiqamah dalam segala hal di atas jalan yang lurus. Ia pun akan beristiqamah dalam segala aktivitas dan segala kondisi. (Al-Jauziyah, tt : 331)
Umar bin Khatab.
Umar bin Khatab pernah mengatakan: Istiqamah adalah bahwa engkau senantiasa lurus (baca; konsisten) dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah, serta tidak menyimpang seperti menyimpangnya rubah. (Al-Jauziyah, tt : 331)
Usman bin Affan.
Beliau mengatakan mengenai istiqamah, “Beristiqamahlah kalian yaitu ikhlaskanlah amal kalian hanya kepada Allah swt.”
Al-Hasan (Hasan al-Bashri)
Beliau mengemukakan, “Istiqamahlah kalian melaksanakan perintah Allah, dengan beramal untuk mentaati-Nya dan menjauhi berbuat kemaksiatan pada-Nya.” (Al-Jauzi, tt : 331)
Ibnu Taimiyah
Beliau mengatakan, “Isttiqmahlah kalian dalam mahabah (kepada Allah) dan dalam berubudiyah kepada-Nya. Dan jangalah menoleh dari-Nya (berpaling walau sesaat) baik ke kanan ataupun ke kiri.” (Al-Jauzi, tt : 332)
Ibnu Rajab Al-Hambali
Beliau mengemukakan bahwa istiqomah adalah menempuh jalan yang lurus, tanpa belok ke kiri dan ke kanan, tercakup di dalamnya ketaatan yang tampak maupun yang tidak tampak, serta meninggalkan larangan.
Dari penjelasan-penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa istiqomah adalah implementasi dari nilai-nilai keimanan kepada Allah secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari baik secara lahiriyah maupun bathiniyah. Sehingga jika diimplemenatasikan dalam kehidupan dakwah kontemporer; seorang kader yang istiqomah, ia akan tetap konsisten menekuni jalan da’wah, apapun resiko dan konsekuensi yang harus dihadapinya. Seorang pejuang dakwah di parlemen yang istiqamah misalnya, akan senantiasa memperjuangkan ‘panji-panji’ dakwah, dengan segala kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya, tanpa ragu dan bimbang serta tidak tergoda dengan segala godaan duniawi. Dan seorang al-akh yang istiqomah adalah al-akh yang ‘berani’ untuk tetap konsisten memperjuangkan ideologi dakwahnya yang benar, meskipun bertentangan dengan rekan-rekannya yang mungkin lebih senior, lebih struktural ataupun lebih ‘besar’ dalam pandangan manusia.
Adalah Imam Ahmad bin Hambal, yang dikenal sebagai imamnya ahlus sunnah berani mempertahankan keyakinannya mengemukakan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah. Beliau menolak ‘kemakhlukan Qur’an’ sebagaimana yang dipropagandakan Mu’tazilah melalui jalur penguasa. Imam Ahmad tetap konsisten, meskipun berbagai siksaan menghujani beliau tanpa mengenal rasa kasihan. Dan yang lebih ironis adalah siksaan dilakukan oleh institusi struktural kekhalifahan yang resmi. Namun beliau tetap menjalaninya dengan penuh ketabahan dan keihlasan kepada Allah swt. Inilah salah satu contoh bentuk keistiqamahan.
Antara Istiqamah dan IstighfarTerkadang muncul dalam persepsi bahwa orang yang istiqamah adalah orang yang konsisten dalam kebenaran dan tidak pernah sekalipun terjerumus dalam lubang kenistaan. Padalah sesungguhnya manusia tetaplah manusia, kendatipun takwanya ia. Ia pasti pernah berbuat kekeliruan ataupun kesalahan. Oleh karenanya, untuk mengclearkan masalah ini, dalam salah satu ayat-Nya di dalam Al-Qur’an, Allah swt. menggandeng antara istiqamah dengan istighfar kepada Allah swt., yaitu sebagaimana yang terdapat dalam QS. Fushilat/ 41 : 6 :
“Katakanlah: ‘Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan (Nya).”
Ayat di atas menggambarkan, bahwa setiap insan pasti pernah melakukan satu kelalaian atau kesalahan, tanpa terkecuali siapapun dia. Oleh karenanya, seorang muslim yang baik adalah yang senantiasa introspeksi diri terhadap segala kekurangan dan kesalahan-kesalahannya, untuk kemudian berusaha memperbaikinya dengan terlebih dahulu beristighfar dan bertaubat memohon ampunan kepada Allah swt.
Terlebih ketika mengarungi jalan dakwah yang penuh lubang dan duri, serta masafah (baca ; jarak tempuh) yang seolah bagaikan lautan tiada bertepi. Di sana banyak manusia-manusia yang beragam asal-usulnya, berbeda latar belakangnya; baik dalam keilmuan, pengalaman, cara pandang dan lain sebagainya. Tentulah hal ini memerlukan keistiqamahan dalam mengarunginya. Karena benturan, perbedaan ataupun kesilapan diantara sesama aktivis dakwah pasti terjadi.
Mustahil jika manusia sebanyak itu tidak pernah saling salah paham. Sedangkan suami istri yang telah diikat dengan kalimatullah, hidup bersama siang dan malam, pagi dan sore, masih memiliki perbedaan-perbedaan yang sulit dihindarkan. Apatah lagi, bagi sebuah kelompok besar yang masing-masing memiliki interest tersendiri. Namun yang lebih penting adalah, pasca kesalahan tersebut, apa yang ia perbuat kemudian? Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda, Dari Anas bin Malik ra, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Semua anak cucu adam berbuat kesalahan. Dan sebaik-baik orang yang berbuat salah, adalah mereka-mereka yang bertaubat.” (HR.Tirmidzi)
Para ulama mengemukakan bahwa proses perbaikan diri dari kesalahan dan kekeliruan yang diperbuat, adalah juga bagian yang tak terpisahkan dari istiqomah itu sendiri. (Al-Bugha, 1993 : 175).
Buah Istiqamah
Istiqamah memiliki beberapa keutamaan yang tidak dimiliki oleh sifat-sifat lain dalam Islam. Diantara keutamaan istiqamah adalah :
1. Istiqamah merupakan jalan menuju ke surga. “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (QS. 41 : 30)
2. Berdasarkan ayat di atas, istiqamah merupakan satu bentuk sifat atau perbuatan yang dapat mendatangkan ta’yiid (baca ; pertolongan dan dukungan) dari para malaikat.
3. Istiqamah merupakan amalan yang paling dicintai oleh Allah swt.Dalam sebuah hadits digambarkan : Dari Aisyah r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, ‘Berbuat sesuatu yang tepat dan benarlah kalian (maksudnya; istiqamahlah dalam amal dan berkatalah yang benar/jujur) dan mendekatlah kalian (mendekati amalan istiqamah dalam amal dan jujur dalam berkata). Dan ketahuilah, bahwa siapapun diantara kalian tidak akan bisa masuk surga dengan amalnya. Dan amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang langgeng (terus menerus) meskipun sedikit. (HR. Bukhari)
4. Berdasarkan hadits di atas, kita juga diperintahkan untuk senantiasa beristiqamah. Ini artinya bahwa Istiqamah merupakan pengamalan dari sunnah Rasulullah saw.
5. Istiqamah merupakan ciri mendasar orang mukmin.Dalam sebuah riwayat digambarkan: Dari Tsauban ra, Rasulullah saw. bersabda, ‘istiqamahlah kalian, dan janganlah kalian menghitung-hitung. Dan ketahuilah bahwa sebaik-baik amal kalian adalah shalat. Dan tidak ada yang dapat menjaga wudhu’ (baca; istiqamah dalam whudu’, kecuali orang mukmin.) (HR. Ibnu Majah)Cara untuk Merealisasikan Istiqamah
Setelah kita memahami mengenai istiqamah secara singkat, tinggallah kenyataan yang ada dalam diri kita semua. Yaitu, kita semua barangkali masih jauh dari sifat istiqamah ini. Kita masih belum mampu merealisasikannya dalam kehidupan nyata dengan berbagai dimensinya. Oleh karena itulah, perlu kiranya kita semua mencoba untuk merealisasikan sifat ini. Berikut adalah beberapa kiat dalam mewujudkan sikap istiqamah:
1. Mengikhlaskan niat semata-mata hanya mengharap Allah dan karena Allah swt. Ketika beramal, tiada yang hadir dalam jiwa dan pikiran kita selain hanya Allah dan Allah. Karena keikhlasan merupakan pijakan dasar dalam bertawakal kepada Allah. Tidak mungkin seseorang akan bertawakal, tanpa diiringi rasa ikhlas.
2. Bertahap dalam beramal. Dalam artian, ketika menjalankan suatu ibadah, kita hendaknya memulai dari sesuatu yang kecil namun rutin. Bahkan sifat kerutinan ini jika dipandang perlu, harus bersifat sedikit dipaksakan. Sehingga akan terwujud sebuah amalan yang rutin meskipun sedikit. Kerutinan inilah yang insya Allah menjadi cikal bakalnya keistiqamahan. Seperti dalam bertilawah Al-Qur’an, dalam qiyamul lail dan lain sebagainya; hendaknya dimulai dari sedikit demi sedikit, kemudian ditingkatkan menjadi lebih baik lagi.
3. Diperlukan adanya kesabaran. Karena untuk melakukan suatu amalan yang bersifat kontinyu dan rutin, memang merupakan amalan yang berat. Karena kadangkala sebagai seorang insan, kita terkadang dihinggapi rasa giat dan kadang rasa malas. Oleh karenanya diperlukan kesabaran dalam menghilangkan rasa malas ini, guna menjalankan ibadah atau amalan yang akan diistiqamahi.
4. Istiqamah tidak dapat direalisasikan melainkan dengan berpegang teguh terhadap ajaran Allah swt. Allah berfirman (QS. 3 : 101) :”Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”
5. Istiqamah juga sangat terkait erat dengan tauhidullah. Oleh karenanya dalam beristiqamah seseorang benar-benar harus mentauhidkan Allah dari segala sesuatu apapun yang di muka bumi ini. Karena mustahil istiqamah direalisasikan, bila dibarengi dengan fenomena kemusyrikan, meskipun hanya fenomena yang sangat kecil dari kemusyrikan tersebut, seperti riya. Menghilangkan sifat riya’ dalam diri kita merupakan bentuk istiqamah dalam keikhlasan.
6. Istiqamah juga akan dapat terealisasikan, jika kita memahami hikmah atau hakekat dari ibadah ataupun amalan yang kita lakukan tersebut. Sehingga ibadah tersebut terasa nikmat kita lakukan. Demikian juga sebaliknya, jika kita merasakan ‘kehampaan’ atau ‘kegersangan’ dari amalan yang kita lakukan, tentu hal ini menjadikan kita mudah jenuh dan meninggalkan ibadah tersebut.
7. Istiqamah juga akan sangat terbantu dengan adanya amal jama’i. Karena dengan kebersamaan dalam beramal islami, akan lebih membantu dan mempermudah hal apapun yang akan kita lakukan. Jika kita salah, tentu ada yang menegur. Jika kita lalai, tentu yang lain ada yang mengnigatkan. Berbeda dengan ketika kita seorang diri. Ditambah lagi, nuansa atau suasana beraktivitas secara bersama memberikan ‘sesuatu yang berbeda’ yang tidak akan kita rasakan ketika beramal seorang diri.
8. Memperbanyak membaca dan mengupas mengenai keistiqamahan para salafuna shaleh dalam meniti jalan hidupnya, kendatipun berbagai cobaan dan ujian yang sangat berat menimpa mereka. Jusrtru mereka merasakan kenikmatan dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan cobaan tersebut.
9. Memperbanyak berdoa kepada Allah, agar kita semua dianugerahi sifat istiqamah. Karena kendatipun usaha kita, namun jika Allah tidak mengizinkannya, tentulah hal tersebut tidak akan pernah terwujud.
Hikmah Tarbawiyah
Hadits di atas memiliki hikmah tarbawiyah yang patut untuk dicermati dan diajadikan pelajaran bagi aktivis dakwah masa kini. Diantara hikmahnya adalah:
1. Antusias sahabat dalam “menimba ilmu” dari Rasulullah saw., terutama mengenai hal yang terkait dengan kebahagiaan hakiki di kemudian hari bagi mereka sendiri. Bahkan sahabat tidak segan-segan menggunakan bahasa pertanyaan yang sangat spesifik, yang seolah jawabannya tidak dimiliki oleh siapapun kecuali hanya dari Rasulullah saw.
2. Jawaban yang diberikan Rasulullah saw. kepada sahabat yang bertanya padanya, merupakan jawaban yang singkat, padat, mudah dimengerti serta tidak menggunakan bahasa yang rumit dan sukar dipahami. Hal ini sekaligus memberikan pelajaran bagi para aktivis dakwah, bahwa hendaknya dalam memberikan arahan kepada audiens dakwah, menggunakan bahasa yang sesuai dengan kadar kemampuan mereka, serta jelas dari segi poin-poinnya.
3. Dari segi isi haditsnya, dapat ditarik satu kesimpulan yaitu bahwa sesungguhnya tidak dapat dipisahkan antara iman dan istiqamah. Karena konsekwensi iman adalah istiqomah. Sedangkan istiqomah merupakan keharusan dari adanya keimanan kepada Allah swt. Oleh karenanya dalam keseharian, seorang akh cukup dengan hanya penempaan keimanan melalui sarana-sarana tarbiyah dan ia dapat “bagus” di dalamnya. Hendaknya seorang al-akh juga harus tetap istiqamah kendatipun berada di luar majlis tarbiyahnya. Seperti ketika sedang berbisnis, ia harus “istiqamah” menjaga nilai-nilai tarbawi yang telah didapatnya dalam halaqah, ketika melakukan transaksi bisnis, baik dengan sesama ikhwah maupun dengan pihak lain. Demikian juga dalam aspek-aspek yang lainnya, seperti ketika berpolitik juga harus senantiasa istiqamah dalam implementasinya, kendatipun terdapat perbedaan yang sangat tajam antara lingkungan tarbawi dengan lingkungan siyasi.
4. Namun walau bagaimanapun juga, se-shaleh – shalehnya seorang yang shaleh, ia juga tetap merupakan seorang manusia biasa yang tentunya tidak akan luput dari noda dan dosa. Ketika berinteraksi mengamalkan nilai-nilai tarbawi di “dunia lain”, tentunya banyak lobang menganga yang siap “menelan” langkah-langkah kaki kita. Seperti salah dalam bertindak, sifat emosi dan marah, salah memberikan kebijakan dan lain sebagainya. Namun jika semua kesalahan tersebut “diakui” serta kemudian diperbaiki, maka insya Allah, hal ini merupakan bagian dari istiqamah. Namun sebaliknya, jika kesalahan tersebut semakin menyeretnya pada jurang kemurkaan Allah SWT, maka tentunya ia akan semakin terperosok dalam lembah kenistaan yang mendalam.
5. Istiqamah merupakan satu bentuk “proses pembelajaran” yang harus senantasa dilakukan oleh setiap al-akh. Karena hidup merupakan proses pembelajaran, menuju keridhaan Allah swt. Dan salah satu ciri dari pembelajaran adalah adanya kekeliruan. Dan dengan kekeliruan inilah, kita berupaya memperbaiki diri. Tanpa kesalahan, tidak akan pernah ada keberhasilan.
6. Istiqamah merupakan bentuk “manajemen” diri yang sangat baik dan disarankan oleh berbagai ahli menejemen. Karena istiqomah adalah implementasi dari emotional controlling yang terdapat dalam diri seseorang. Dan paradigma yang populer sekarang ini adalah bahwa kunci keberhasilan yang paling besar adalah dengan kontrol emosi. Seseorang yang memiliki kontrol emosi yang baik, maka prosentase keberhasilannya akan lebih besar, dibandingkan dengan orang yang memiliki kecerdasan intelektual sekalipun.
7. Istiqamah sangat diperlukan, terutama bagi “bekal” dari panjangnya perjalanan dakwah. Ibarat orang yang lari maraton 10 km, maka ia tidak boleh berlari sprint pada 100 m awal, kemudian setelah itu ia kelelahan.
sumber: www.dakwatuna.com